BREAKING NEWS
Kamis, 06 Agustus 2026

Ketika Mahasiswa Melawan

- Sabtu, 13 Juni 2026 15:40 WIB
Ketika Mahasiswa Melawan
BEM UI Gelar Demo di Bundaran HI, Bawa Lima Tuntutan untuk Pemerintah. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Perbandingan dengan gerakan mahasiswa di luar negeri memang terasa perlu.

Di Prancis, gerakan mahasiswa 1968 melahirkan reformasi pendidikan besar-besaran dan mengubah wajah politik Eropa.

Di Korea Selatan, gerakan mahasiswa 1980-an menjadi tulang punggung demokratisasi yang akhirnya berhasil menggulingkan kekuasaan militer Chun Doo-hwan.

Di Hong Kong, gerakan 2019—meski berakhir tragis secara politik—menunjukkan tingkat konsolidasi dan kecanggihan pengorganisasian yang mengagumkan: dari sistem komunikasi terenkripsi, pembagian peran yang jelas, hingga narasi tuntutan yang terfokus.

Yang membedakan gerakan-gerakan itu dengan banyak aksi mahasiswa kita belakangan ini bukan soal keberanian—mahasiswa Indonesia tidak pernah kekurangan nyali.

Perbedaannya ada pada kedalaman: kedalaman analisis isu, kedalaman konsolidasi organisasi, dan kedalaman komitmen jangka panjang.

Ketika aksi mahasiswa di banyak negara bertumpu pada riset kebijakan yang serius, dialog dengan pakar, dan tuntutan yang terformulasi dengan presisi regulasi, hukum dan perspektif ekonomi, terlalu banyak aksi kita masih berhenti pada slogan-slogan yang lebih cocok menjadi caption Instagram daripada tuntutan kebijakan yang bisa dinegosiasikan di meja perundingan.

Inilah yang perlu kita bicarakan dengan jujur.

Transformasi digital yang luar biasa telah mengubah ekosistem gerakan sosial secara mendasar.

Media sosial memang memungkinkan mobilisasi massal dalam hitungan jam—sesuatu yang dulu membutuhkan berbulan-bulan konsolidasi.

Itu positif. Namun di saat yang sama, logika algoritma platform digital mendorong gerakan sosial untuk beroperasi dalam ritme viral yang dangkal: reaksi cepat, emosi tinggi, lalu lenyap begitu trending topic berganti.

Akibatnya, yang kerap kita saksikan adalah aksi yang tampak masif secara tampilan—ribuan orang di jalan, foto-foto yang viral—tetapi miskin kedalaman secara konten tuntutan dan lemah dalam konsolidasi pasca-aksi.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Wabup Syahdian Purba Sambut Kepulangan 147 Jamaah Haji Labusel, Seluruhnya Kembali Sehat
Aceh Berduka, Mantan Gubernur Zaini Abdullah Tutup Usia di 86 Tahun
Rico Waas Gerak Cepat Tindak Keluhan Warga Medan Johor, Dari Banjir hingga BPJS Tidak Aktif
Purbaya Tegaskan RAPBN 2027 Tetap Disiplin, Defisit dan Utang Dijaga dalam Batas Aman
TNI Buka Suara Soal Pengerahan Prajurit Amankan Demo Mahasiswa di Jakarta
Aksi Mahasiswa di Bundaran HI Berakhir Damai, Janji Kembali dengan Massa Lebih Besar
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru