BREAKING NEWS
Kamis, 06 Agustus 2026

Ketika Mahasiswa Melawan

- Sabtu, 13 Juni 2026 15:40 WIB
Ketika Mahasiswa Melawan
BEM UI Gelar Demo di Bundaran HI, Bawa Lima Tuntutan untuk Pemerintah. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Yang lebih memperuhatinkan, gerakan terpecah-pecah dalam blok-blok politik kampus yang lebih sibuk mempertahankan teritori kadernya daripada membangun platform perlawanan bersama.

Sanit mengingatkan, gerakan yang kehilangan karakter pengorganisasiannya akan mudah ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan di luar kepentingan rakyat.

Ia akan rentan terhadap infiltrasi, mudah diprovokasi untuk tindakan yang justru mendelegitimasi gerakan itu sendiri, dan pada akhirnya menjadi alat mobilisasi sesaat yang tidak meninggalkan perubahan struktural apa pun.

Saatnya Melakukan Otokritik

Maka kepada para aktivis mahasiswa hari ini—termasuk mereka berdiri tegak di adang aparat di depan Thamrin Nine—kita perlu berbicara jujur: keberanian fisik saja tidak cukup.

Saatnya melakukan otokritik.

Saatnya menata ulang konsolidasi, menyatukan visi lintas organisasi dan blok politik kampus, dan yang paling penting: menguasai substansi isu secara serius.

Lima tuntutan yang dibawa massa aksi—soal APBN, MBG, koperasi desa, harga kebutuhan pokok, dan militerisasi sipil—adalah isu-isu yang membutuhkan pemahaman ekonomi makro, politik anggaran negara, dan analisis kebijakan publik yang mumpuni.

Jika aktivis mahasiswa tidak menguasai itu, mereka akan selalu kalah di meja argumen meski menang di jalanan.

Aktivis mahasiswa hari ini perlu belajar dari keberhasilan pengorganisasian aksi-aksi tempo dulu: bagaimana 1998 bisa mengguncang Soeharto bukan hanya karena massa di jalanan, tetapi karena ada narasi yang koheren, ada pemimpin gerakan yang bisa berbicara di forum nasional, dan ada konsensus moral yang melampaui kepentingan kelompok.

Pelajaran itu tidak boleh hilang dimakan algoritma TikTok.

Aksi mahasiswa yang sesungguhnya adalah aksi yang disegani kekuasaan—bukan karena massanya banyak, tetapi karena ia berdiri di atas pondasi moral yang kokoh, intelektualitas yang matang, dan pengorganisasian yang rapi.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Wabup Syahdian Purba Sambut Kepulangan 147 Jamaah Haji Labusel, Seluruhnya Kembali Sehat
Aceh Berduka, Mantan Gubernur Zaini Abdullah Tutup Usia di 86 Tahun
Rico Waas Gerak Cepat Tindak Keluhan Warga Medan Johor, Dari Banjir hingga BPJS Tidak Aktif
Purbaya Tegaskan RAPBN 2027 Tetap Disiplin, Defisit dan Utang Dijaga dalam Batas Aman
TNI Buka Suara Soal Pengerahan Prajurit Amankan Demo Mahasiswa di Jakarta
Aksi Mahasiswa di Bundaran HI Berakhir Damai, Janji Kembali dengan Massa Lebih Besar
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru