Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Budiman yang dahulu mengingatkan tentang bahaya konsentrasi kekuasaan kini menjadi bagian dari struktur yang harus menjawab berbagai kritik terhadap kekuasaan itu sendiri.
Publik pun mulai kehilangan simpati terhadap sosok Budiman.
Tentu saja setiap zaman memiliki konteksnya sendiri. Tetapi publik berhak bertanya. Apakah perubahan posisi politik otomatis mengubah prinsip?
Apakah masuk ke dalam kekuasaan harus dibayar dengan hilangnya daya kritis?
Apakah seorang aktivis masih dapat disebut aktivis ketika kritik terhadap negara terasa lebih mengganggu daripada kritik terhadap rakyat?
Dalam diskusi di Semarang, Ketua PMKRI Cabang Semarang Ramanda Bima Prayuda merumuskan pertanyaan itu dengan jelas, "Apakah Bung Budiman masuk ke dalam kekuasaan untuk menjinakkan kekuasaan dari dalam, atau justru kekuasaan yang telah berhasil menjinakkan Bung Budiman?"
Jawaban Budiman, menurut Bima, tidak menyentuh inti keresahan. Sementara, di UGM, 15 Juni 2026, Budiman memilih tidak tampil sama sekali.
Ia yang sebelumnya sempat mempersilakan mahasiswa mengkritiknya di forum resmi, bukan di media sosial, justru tidak terlihat ketika ratusan mahasiswa menunggunya di luar gedung.
Yang tersisa hanyalah teriakan kecewa yang memantul di bundaran kampus itu. Dua peristiwa ini menegaskan, yang diperdebatkan bukan semata program pemerintah.
Tetapi soal yang sedang diuji adalah konsistensi moral seorang tokoh yang dihormati bukan karena kekuasaannya, tetapi karena pernah berani melawannya.
Mencari Budiman
Sejarah politik Indonesia dipenuhi tokoh-tokoh yang berubah setelah memasuki kekuasaan.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.