Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Sebagian menjadi lebih bijaksana. Sebagian menjadi lebih pragmatis.
Sebagian lagi perlahan kehilangan jejak yang dahulu membuat mereka dihormati. Kekuasaan memang tidak selalu mengubah seseorang.
Tetapi kekuasaan sering kali memperlihatkan siapa seseorang sebenarnya. Indonesia hari ini hidup dalam dua kenyataan yang beriringan.
Di satu sisi, negara terus menggaungkan optimisme. Indonesia Emas 2045 dipresentasikan sebagai visi besar.
Di lain hal, wacana kritis publik tidak kunjung menemukan jawaban. Lapangan kerja yang semakin kompetitif.
Ruang demokrasi yang kian mengalami pendangkalan. Kebebasan sipil yang terus menuai perdebatan. Kesenjangan sosial yang kian melebar.
Mahasiswa yang mengkritik Budiman, di Semarang pada 12 Juni dan di Yogyakarta pada 15 Juni, sesungguhnya berbicara dari realitas itu.
Mereka tidak sedang menyerang masa lalunya. Mereka justru sedang mengingatkan masa lalu tersebut.
Dalam konteks tersebut, kritik itu tidak layak dibaca sebagai ungkapan kebencian generasi muda kepada generasi lama.
Kritik tersebut justru menegaskan bahwa generasi muda masih peduli pada nilai-nilai yang dahulu diperjuangkan para aktivis Reformasi 1998.
Mereka masih percaya bahwa demokrasi harus dijaga, kekuasaan harus diawasi, dan suara kritis tetap diperlukan.
Dan karena itulah mereka bertanya kepada Budiman. Bukan karena mereka melupakan sejarahnya. Justru karena mereka mengingat sejarahnya.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.