BREAKING NEWS
Selasa, 16 Juni 2026

Mencari Budiman Sudjatmiko

BITV Admin - Selasa, 16 Juni 2026 09:51 WIB
Mencari Budiman Sudjatmiko
Budiman Sudjatmiko. (foto: Taufan Rengganis/Tempo)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Yogen Sogen

MENCARI Budiman Sudjatmiko seharusnya bukan perkara sulit. Namanya pernah menjadi bagian dari sejarah perlawanan di negeri ini.

Ketika banyak orang memilih diam, Budiman bersuara. Ketika kritik terhadap kekuasaan dapat berujung penjara, ia tetap berdiri di barisan yang menuntut demokrasi.

Baca Juga:

Ia tidak dikenal karena jabatan, tetapi karena keberanian. Tidak dihormati karena kedekatannya dengan penguasa, tetapi karena kesediaannya mengambil risiko untuk melawan penguasa.

Pada Mei 1998, Budiman adalah salah satu tokoh sentral gerakan mahasiswa yang mengguncang Orde Baru.

Ia ditangkap, diadili, dan dipenjara karena daya kritis dan keteguhannya menentang kekuasaan.

Namanya menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan otoriter yang telah mencengkeram Indonesia selama lebih dari tiga dekade.

Karena itu, ketika pada Jumat, 12 Juni 2026, mahasiswa lintas organisasi dari HMI, PMKRI, KAMMI, dan GMKI melontarkan kritik tajam kepadanya dalam forum diskusi bertajuk "Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini" di Semarang, yang terjadi bukan sekadar perdebatan antara narasumber dan peserta.

Ada sesuatu yang lebih dalam sedang berlangsung. Tiga hari kemudian, Senin, 15 Juni 2026, peristiwa serupa berulang di Joglo GIK Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dengan skala yang lebih besar.

Ratusan mahasiswa menggeruduk panggung diskusi yang menghadirkan Budiman bersama Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.

Spanduk-spanduk dibentangkan, antara lain bertuliskan "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim".

Ketika para pejabat dievakuasi dan Budiman tidak kunjung menampakkan diri, mahasiswa berteriak, "Budiman yang pernah dipenjara, ikut aksi demonstrasi, malah kabur. Budiman pengkhianat, pengecut."

Dari Semarang ke Yogyakarta, dalam tiga hari, pertanyaan itu bukan mereda, justru semakin keras.

Di mana Budiman Sudjatmiko yang dahulu?

Pertanyaan itu mungkin terdengar personal, tetapi sesungguhnya bersifat politis.

Ia adalah gugatan terhadap perjalanan seorang aktivis yang kini berada dalam lingkar kekuasaan. Pertanyaan tentang keteguhan berpolitik.

Tentang prinsip. Tentang jarak antara idealisme dan kenyamanan jabatan. Pertanyaan itu tidak hanya ditujukan kepada Budiman.

Ia ditujukan kepada seluruh generasi aktivis yang pernah menggaungkan perubahan, lalu kemudian menjadi bagian dari kekuasaan yang dahulu mereka kritik.

Aktivis dan Istana Tidak ada yang salah ketika seorang aktivis masuk ke pemerintahan.

Demokrasi justru membutuhkan itu. Perubahan tidak selalu lahir dari jalanan.

Sebagian perubahan membutuhkan orang yang masuk ke dalam sistem dan memperbaikinya dari dalam.

Persoalan muncul ketika seorang aktivis tidak lagi membawa semangat perubahan ke dalam kekuasaan, tetapi justru membawa logika kekuasaan ke dalam dirinya sendiri.

Budiman yang pada Mei 1998 berdiri di garis depan perlawanan mahasiswa kini lebih sering terlihat menjelaskan kebijakan negara yang timpang, ketimbang menjadi pengkritik dari dalam lingkar kuasa, apabila kebijakan tersebut jauh dari prinsipnya.

Budiman yang dahulu berdiri bersama mereka yang menggugat kini lebih sering berdiri di hadapan publik untuk membela kebijakan.

Budiman yang dahulu mengingatkan tentang bahaya konsentrasi kekuasaan kini menjadi bagian dari struktur yang harus menjawab berbagai kritik terhadap kekuasaan itu sendiri.

Publik pun mulai kehilangan simpati terhadap sosok Budiman.

Tentu saja setiap zaman memiliki konteksnya sendiri. Tetapi publik berhak bertanya. Apakah perubahan posisi politik otomatis mengubah prinsip?

Apakah masuk ke dalam kekuasaan harus dibayar dengan hilangnya daya kritis?

Apakah seorang aktivis masih dapat disebut aktivis ketika kritik terhadap negara terasa lebih mengganggu daripada kritik terhadap rakyat?

Dalam diskusi di Semarang, Ketua PMKRI Cabang Semarang Ramanda Bima Prayuda merumuskan pertanyaan itu dengan jelas, "Apakah Bung Budiman masuk ke dalam kekuasaan untuk menjinakkan kekuasaan dari dalam, atau justru kekuasaan yang telah berhasil menjinakkan Bung Budiman?"

Jawaban Budiman, menurut Bima, tidak menyentuh inti keresahan. Sementara, di UGM, 15 Juni 2026, Budiman memilih tidak tampil sama sekali.

Ia yang sebelumnya sempat mempersilakan mahasiswa mengkritiknya di forum resmi, bukan di media sosial, justru tidak terlihat ketika ratusan mahasiswa menunggunya di luar gedung.

Yang tersisa hanyalah teriakan kecewa yang memantul di bundaran kampus itu. Dua peristiwa ini menegaskan, yang diperdebatkan bukan semata program pemerintah.

Tetapi soal yang sedang diuji adalah konsistensi moral seorang tokoh yang dihormati bukan karena kekuasaannya, tetapi karena pernah berani melawannya.

Mencari Budiman

Sejarah politik Indonesia dipenuhi tokoh-tokoh yang berubah setelah memasuki kekuasaan.

Sebagian menjadi lebih bijaksana. Sebagian menjadi lebih pragmatis.

Sebagian lagi perlahan kehilangan jejak yang dahulu membuat mereka dihormati. Kekuasaan memang tidak selalu mengubah seseorang.

Tetapi kekuasaan sering kali memperlihatkan siapa seseorang sebenarnya. Indonesia hari ini hidup dalam dua kenyataan yang beriringan.

Di satu sisi, negara terus menggaungkan optimisme. Indonesia Emas 2045 dipresentasikan sebagai visi besar.

Di lain hal, wacana kritis publik tidak kunjung menemukan jawaban. Lapangan kerja yang semakin kompetitif.

Ruang demokrasi yang kian mengalami pendangkalan. Kebebasan sipil yang terus menuai perdebatan. Kesenjangan sosial yang kian melebar.

Mahasiswa yang mengkritik Budiman, di Semarang pada 12 Juni dan di Yogyakarta pada 15 Juni, sesungguhnya berbicara dari realitas itu.

Mereka tidak sedang menyerang masa lalunya. Mereka justru sedang mengingatkan masa lalu tersebut.

Dalam konteks tersebut, kritik itu tidak layak dibaca sebagai ungkapan kebencian generasi muda kepada generasi lama.

Kritik tersebut justru menegaskan bahwa generasi muda masih peduli pada nilai-nilai yang dahulu diperjuangkan para aktivis Reformasi 1998.

Mereka masih percaya bahwa demokrasi harus dijaga, kekuasaan harus diawasi, dan suara kritis tetap diperlukan.

Dan karena itulah mereka bertanya kepada Budiman. Bukan karena mereka melupakan sejarahnya. Justru karena mereka mengingat sejarahnya.

Yang sedang dicari publik hari ini bukan Budiman Sudjatmiko sebagai pejabat negara. Sebab, pejabat boleh datang dan pergi, tapi jabatan memiliki kadar batas waktu.

Yang sedang dicari adalah Budiman Sudjatmiko sebagai simbol.

Simbol keberanian untuk mengatakan yang benar ketika kekuasaan tidak menyukainya. Simbol keteguhan yang tidak mudah larut dalam kepentingan partisan.

Simbol aktivisme yang tetap hidup bahkan ketika seseorang sudah menyatu dalam lingkar istana.

Sejatinya, demokrasi tidak hanya membutuhkan orang-orang baik di dalam pemerintahan.

Demokrasi membutuhkan orang-orang yang berani menjaga nurani mereka ketika berada di dalam pemerintahan.

Itulah pertanyaan sesungguhnya yang bergema dari Semarang hingga Yogyakarta, dalam rentang tiga hari yang mewarnai aksi mahasiswa di berbagai wilayah.

Lebih jauh, generasi hari ini yang mempertanyakan sikap Budiman Sudjatmiko, bukan tentang program, jabatan, dan bukan pula tentang Indonesia Emas.

Pertanyaan itu adalah keresahan kolektif yang selama ini mengendap: apakah Budiman Sudjatmiko yang pada Mei 1998 memperjuangkan demokrasi masih hidup di dalam diri Budiman Sudjatmiko yang hari ini membela kekuasaan?

Sampai hari ini, pertanyaan itu masih menunggu jawaban.* (nasional.kompas.com)


*) Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pemerintahan STIPAN

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Harga Emas Antam Tak Bergerak Hari Ini, Bertahan di Rp2,729 Juta per Gram
Terima 15 Perwakilan Mahasiswa di Istana Wapres, Gibran: Saya Sadar Program Pemerintah Masih Banyak Minusnya
Forum Diskusi di UGM Berakhir Ricuh, Budiman Sudjatmiko: Kesannya Mahasiswa Menolak Audiensi
Prakiraan Cuaca DIY Hari Ini, Selasa 16 Juni 2026: Seluruh Wilayah Cerah
Mahasiswa Beri Batas Waktu 5 Hari ke Pemerintah Usai Dialog dengan Wapres Gibran
Internet Dilaporkan Terganggu Saat Demo DPRD Sumut, Polisi Sebut Belum Ada Laporan Resmi
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru