Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Dan gambar yang muncul berulang kali di layar televisi, pada momentum kenegaraan, tentu memiliki bobot yang berbeda dari pertemuan biasa. Terlebih ketika gambar tersebut hadir di tengah narasi mengenai keretakan.
Maka, pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi sekadar apakah Prabowo dan Jokowi masih akrab. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa narasi tentang keretakan itu begitu mudah berkembang, dan mengapa Istana hari ini justru memperlihatkan gambar yang sebaliknya?
Membaca ulang hubungan Prabowo dan Jokowi
Gunjang ganjing poltik pasca-Pilpes 2024, telah secara siginifikan memunculkan spekulasi publik pada keretakan hubungan kedua tokoh poltik Indonesia ini. Namun hari ini, konteksnya menjadi lebih menarik. Sebab kita tidak lagi hanya berbicara tentang asumsi. Kita memiliki peristiwa aktual yang dapat diamati secara langsung.
Dan peristiwa itu membawa kita kembali kepada satu fakta penting tentang hubungan kedua tokoh ini. Prabowo dan Jokowi tidak memulai perjalanan politik mereka sebagai sahabat. Mereka justru memulainya sebagai rival. Pada 2014, keduanya bertarung dalam pemilihan presiden. Lima tahun kemudian, mereka kembali berhadapan. Dua kali Prabowo kalah. Namun, justru setelah kekalahan kedua itulah terjadi salah satu transformasi politik paling menarik dalam sejarah demokrasi Indonesia.
Prabowo memilih bergabung dengan pemerintahan Jokowi sebagai Menteri Pertahanan. Keputusan itu pada mulanya menuai kontroversi. Sebagian pendukungnya merasa kecewa. Sebagian bahkan menganggapnya sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan politik yang telah dibangun bertahun-tahun. Namun, sejarah kemudian menunjukkan bahwa keputusan tersebut menjadi jembatan. Prabowo dan Jokowi yang sebelumnya bertarung akhirnya bekerja bersama.
Dari kompetitor menjadi mitra. Dari rival menjadi bagian dari satu pemerintahan. Dan dari hubungan politik itulah kemudian lahir konfigurasi Pilpres 2024, ketika Gibran menjadi pasangan Prabowo. Hubungan politik yang demikian panjang tentu tidak dapat dibaca hanya dengan satu atau dua peristiwa. Ada sejarah, ada kepentingan dan penghormatan.
Dan ada pula kemungkinan perbedaan. Namun, justru karena itulah kita perlu berhati-hati ketika menggunakan kata "renggang". Sebab berbeda tidak selalu berarti bermusuhan. Berkomunikasi dengan pihak lain tidak berarti berkhianat. Dan tidak tampil membela seseorang secara terbuka tidak otomatis berarti meninggalkannya.
Seorang presiden memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada menjaga satu hubungan personal. Ia harus menjaga keseimbangan kekuasaan, stabilitas pemerintahan, kepentingan negara dan masa depan politik bangsa.
Karena itu, sangat mungkin Prabowo memiliki kalkulasi politiknya sendiri. Dan sangat mungkin Jokowi juga memiliki agenda serta pandangan politiknya sendiri. Memiliki kalkulasi masing-masing tidak berarti hubungan personal dan penghormatan di antara keduanya harus hilang. Justru di situlah kedewasaan politik diuji. Maka saya kira, pemandangan di Istana pada 17 Agustus 2026, perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas. Bukan sebagai bukti bahwa semua persoalan politik telah selesai.
Bukan pula sebagai alasan untuk menutup mata terhadap kritik. Melainkan sebagai pengingat bahwa politik tidak selalu berjalan sesuai dengan narasi yang kita bangun sendiri. Kadang kita terlalu cepat menyimpulkan. Kita melihat satu peristiwa, lalu membangun cerita besar di atasnya. Seseorang membuka komunikasi dengan kelompok lain, kita menyebutnya pengkhianatan. Seseorang diam terhadap isu, kita menyebutnya menjauh. Seseorang tidak lagi tampil sesering sebelumnya, kita menyebut hubungan telah berakhir.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.