BREAKING NEWS
Rabu, 14 Oktober 2026

Dari TPA Sampah ke Bank Pakan: Jawaban Krisis Pakan Ternak

Administrator - Selasa, 25 Agustus 2026 16:52 WIB
Dari TPA Sampah ke Bank Pakan: Jawaban Krisis Pakan Ternak
Agus Santoso, Mantan Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, Peternak Domba Kambing. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Untuk 100 ekor domba/kambing, maka kebutuhan pakannya adalah sekitar 300 kg per hari. Dengan HPP Rp2.000/kg, maka biaya pakan per bulan adalah Rp15,6 juta. Padahal, jika membeli konsentrat pabrikan di harga Rp7.000/kg, maka biayanya Rp54,6 juta.

Selisihnya bisa Rp39 juta.

Jika dipotong biaya tenaga dan operasional, penghematan bersih kelompok peternak bisa jadi di Rp20 juta per bulan. Angka ini bisa menjadi modal untuk ekspansi di kandang.

Lebih dari Pakan: Ini Soal Ketahanan dan Ibadah

Menganggap Bank Pakan Ternak hanya sebagai solusi teknis belaka adalah cara berpikir yang terlalu sempit. Dampaknya jauh lebih luas. Dari sisi lingkungan, ini adalah ekonomi sirkular yang nyata.

Setiap 1 ton sampah organik yang tidak ke TPA berarti mengurangi emisi gas metan. Setiap 1 ton produk industri yang didaur ulang menjadi pakan ternak berarti menghemat sumber daya alam untuk membuat pakan ternak baru. Dari sisi ekonomi rakyat, ini adalah cara menurunkan biaya pokok produksi. Dengan biaya pakan turun 40–50%, maka harga jual domba bisa lebih kompetitif. Peternak kecil tidak akan tergilas oleh peternak besar yang punya akses kepada bahan pakan murah. Dari sisi ketahanan pangan, ini adalah jalan menuju swasembada daging kambing dan domba. Kebutuhan hewan kurban dan hewan akikah di masa-masa yang akan datang bisa terpenuhi.

Jika volume pakan terjamin, maka populasi ternak domba kambing lokal bisa ditingkatkan. Bank Pakan juga bisa menjadi instrumen filantropi. BAZNAS atau CSR perusahaan bisa menyalurkan "zakat pakan" kepada peternak mustahik. Mereka diberi pakan gratis selama 3 bulan untuk menggemukkan hewan kurban. Ini mengintegrasikan ibadah, ekonomi, dan lingkungan dalam satu sistem.

Tiga PR Besar yang Harus Dikerjakan

Agar ide ini tidak berhenti di atas kertas, ada tiga pekerjaan rumah.

Pertama, soal regulasi dan logistik.

Pemerintah daerah harus berani memfasilitasi hubungan kemitraan antara Koperasi Peternak dengan Asosiasi Hotel, Asosiasi Resto, Pasar Induk, dan Pabrik Makanan. Perlu ada regulasi yang mempermudah klasifikasi "sampah organik untuk pakan ternak" agar tidak ada yang terjebak dalam birokrasi limbah B3. Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Peternakan harus duduk satu meja.

Kedua, soal teknologi dan pendampingan.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Ketika Megawati Mengajak Indonesia Belajar dari Iran
Gemuruh Semangat Tanah Gayo Ribuan Warga Bener Meriah Gelar Apel Kebangsaan Teguhkan Komitmen NKRI
Darurat Kekeringan El Nino Mengamuk, Sebagian Besar Jawa Masuk Kategori Awas
Disrupsi Teknologi & Masa Depan Wirausaha: Universitas Paramadina Satukan Akademisi Tiga Negara di IFE 2026
Ngebut di Era Digital Menkomdigi Ungkap 4G Nyaris Sikat 99% Penduduk, 5G Masih Merayap
Kemitraan Strategis Eropa-Sumut: Wagub Surya Pikat Dubes Belgia Lewat Optimalisasi Sawit dan Inovasi Olahraga
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru