BREAKING NEWS
Senin, 12 Oktober 2026

Dari TPA Sampah ke Bank Pakan: Jawaban Krisis Pakan Ternak

Administrator - Selasa, 25 Agustus 2026 16:52 WIB
Dari TPA Sampah ke Bank Pakan: Jawaban Krisis Pakan Ternak
Agus Santoso, Mantan Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM, Peternak Domba Kambing. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Ketiga, Ampas Industri Pangan.

Ampas tahu, ampas tempe, ampas singkong, ampas bir, dedak, bekatul. Limbah ini sudah lama dikenal oleh peternak. Masalahnya hanya satu, kadar airnya masih tinggi, 70–80%, sehingga cepat asam dan sulit disimpan. Solusinya adalah proses fermentasi. Dengan teknologi silase sederhana, ditambah probiotik, molases, dan premix vitamin-mineral, ampas bisa awet hingga 6–12 bulan. Proses fermentasi juga akan meningkatkan daya cerna dan menambah aroma yang disukai domba kambing. Produk akhirnya adalah pakan berserat tinggi dengan energi yang cukup.

Ketiga jenis bahan baku ini kalau berdiri sendiri tidak kuat.

Industrial food waste kaya energi, tapi kurang serat. Ampas kaya serat, tapi kurang protein. Magot kaya protein, tapi mahal jika diproduksi sendiri. Namun, ketika ketiganya diramu dengan formula yang tepat, maka hasilnya adalah complete feed yang lengkap: energi + protein + serat + vitamin mineral. Dan kabar baiknya, harganya bisa separuh dari harga pakan pabrikan.

Mengapa Harus Bank Pakan dan Mengapa Harus Koperasi?

Kelemahan terbesar dari peternak rakyat bukan pada skill-nya, tapi pada skala usaha. Seorang peternak dengan 10 ekor domba/kambing tidak akan mungkin pergi ke pabrik biskuit untuk membeli 1 truk produk kedaluwarsa atau afkir. Ongkos transportasinya akan lebih mahal daripada nilai bahan baku pakannya. Di sinilah peran kelembagaan. Model yang paling mungkin adalah membuat Bank Pakan Ternak yang dikelola oleh koperasi. Logikanya sama seperti bank di sektor keuangan. Peternak "menabung" dalam bentuk iuran atau tenaga.

Koperasi "menjemput" sampah makanan dalam volume besar dari sumbernya. Lalu koperasi "memproduksi" dan "menyalurkan" kembali dalam bentuk pakan (complete feed) kepada anggota dengan harga HPP. Dengan sistem ini bisa didapatkan tiga efisiensi sekaligus.

Pertama, efisiensi logistik.

Menjemput 3 ton sampah dengan 1 truk jauh lebih murah daripada 30 peternak menjemput 100 kg dengan motor. Koperasi bisa membuat jadwal pengambilan bahan baku secara tetap: Senin ke pasar, Selasa ke hotel, Rabu ke pabrik.

Kedua, efisiensi produksi.

Satu paket mesin chopper Rp7,5 juta, mixer Rp12 juta, dan 20 drum fermentasi bisa digunakan oleh 20–30 anggota. Jika dibeli sendiri-sendiri, biayanya akan 20 kali lipat. Dengan produksi 3 ton bahan baku per hari, HPP pakan fermentasi bisa ditekan ke kisaran Rp1.800–Rp3.500 per kg, tergantung komposisi bahan kering dan basah.


Ketiga, efisiensi mutu.

Koperasi bisa menunjuk 2–3 orang sebagai "ahli gizi ternak". Mereka bertugas untuk meramu, mencatat, dan sesekali mengirim sampel produknya ke laboratorium universitas terdekat. Dengan begitu, pakan yang dihasilkan kualitasnya terjaga, bukan asal-asalan. Malah, produk pakan itu bisa diberi merek, dikemas, dan dijual kepada peternak non-anggota. Usaha ini tentu akan menjadi lini pendapatan bagi koperasi.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Ketika Megawati Mengajak Indonesia Belajar dari Iran
Gemuruh Semangat Tanah Gayo Ribuan Warga Bener Meriah Gelar Apel Kebangsaan Teguhkan Komitmen NKRI
Darurat Kekeringan El Nino Mengamuk, Sebagian Besar Jawa Masuk Kategori Awas
Disrupsi Teknologi & Masa Depan Wirausaha: Universitas Paramadina Satukan Akademisi Tiga Negara di IFE 2026
Ngebut di Era Digital Menkomdigi Ungkap 4G Nyaris Sikat 99% Penduduk, 5G Masih Merayap
Kemitraan Strategis Eropa-Sumut: Wagub Surya Pikat Dubes Belgia Lewat Optimalisasi Sawit dan Inovasi Olahraga
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru