BREAKING NEWS
Sabtu, 05 September 2026

Berhenti Meracuni Rakyat!

Redaksi - Sabtu, 05 September 2026 10:34 WIB
Berhenti Meracuni Rakyat!
Para pasien yang menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur usai diduga keracunan Makan Bergizi Gratis pada Rabu (2/9/2026). (Foto: KOMPAS/AZWA SAFRINA)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Bukan karena niat jahat individu, melainkan karena desain sistem yang longgar, pengawasan yang lemah, dan prioritas politik yang lebih mengutamakan kecepatan serta cakupan daripada mutu dan keamanan. Teori good governance menekankan tiga pilar: transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi. Dalam kasus MBG, ketiganya goyah. Transparansi soal pemilihan mitra SPPG, sertifikasi higiene, dan hasil investigasi kasus keracunan masih minim. Akuntabilitas hampir tidak terlihat.

Hingga kini, tak muncul penetapan tersangka atau sanksi pidana yang tegas, padahal puluhan ribu anak telah menjadi korban. Partisipasi publik dan pengawasan independen juga terasa formalitas belaka. Evaluasi yang digembar-gemborkan pemerintah kerap berhenti di level administratif: menutup sementara dapur bermasalah, meminta maaf, lalu melanjutkan bisnis seperti biasa.

Hasilnya? Kasus terus berulang. Dari perspektif hak asasi manusia, negara memiliki kewajiban positif untuk melindungi hak atas kesehatan dan hak atas pangan yang aman. Ketika negara menyediakan makanan secara langsung kepada warga, terutama anak-anak yang berada di bawah pengawasan lembaga pendidikan, standar kehati-hatian seharusnya jauh lebih tinggi. Kegagalan berulang dalam memenuhi standar tersebut dapat dilihat sebagai pelanggaran terhadap kewajiban tersebut.

Anak-anak, sebagai kelompok yang paling rentan, seharusnya mendapat perlindungan maksimal, bukan dijadikan "laboratorium" bagi program yang belum matang. Ada juga dimensi politik-ekonomi yang menarik. Program sebesar ini menciptakan ekosistem ekonomi baru, seperti dapur-dapur SPPG, pemasok bahan baku, insentif operasional, dan jaringan distribusi.

Dengan insentif harian yang cukup signifikan bagi pengelola dapur, tekanan untuk memproduksi dalam skala besar menjadi tinggi. Dapur kecil dipaksa melayani ribuan porsi. Akibatnya, standar keamanan dikorbankan demi volume. Ini mengingatkan kita pada kritik klasik terhadap implementasi kebijakan publik yang terlalu ambisius tanpa kapasitas institusional yang memadai, apa yang disebut sebagai "policy overstretch".


Kerapuhan Tata Kelola


Lebih dalam lagi, tragedi ini mengungkap kerapuhan tata kelola pangan publik di Indonesia. Kita punya BPOM, dinas kesehatan, dan berbagai regulasi higiene sanitasi. Namun, ketika program nasional diluncurkan secara masif dan cepat, mekanisme pengawasan lokal dan nasional seolah kewalahan. Sertifikasi laik higiene sanitasi baru diperketat belakangan, setelah ribuan korban berjatuhan. Sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) yang direkomendasikan hanya diterapkan di segelintir dapur.

Ini menunjukkan bahwa regulasi lebih sering menjadi formalitas daripada budaya kerja. Argumentasi yang sering dilontarkan untuk membela program ini adalah bahwa jumlah korban "hanya" sebagian kecil dari porsi yang sudah disajikan. Secara statistik, persentasenya memang kecil. Namun, logika ini berbahaya. Kita tidak mengukur keberhasilan program kesehatan publik dengan membandingkan jumlah yang sakit dengan total yang dilayani, melainkan dengan standar "zero harm" yang sepatutnya diupayakan, terutama untuk anak-anak.

Satu anak yang keracunan karena kelalaian negara sudah terlalu banyak. Empat puluh tiga ribu lebih adalah indikasi sistemik, bukan anomali. Lebih jauh, program yang seharusnya memperkuat kepercayaan publik justru mengikisnya. Setiap kali berita keracunan muncul, orang tua - khususnya kaum ibu - di berbagai daerah menjadi was-was. Ada yang melarang anaknya makan MBG. Ada yang mempertanyakan apakah "gratis" sepadan dengan risiko. Ironi terbesar adalah ketika program yang bertujuan memperbaiki gizi justru menciptakan trauma dan gangguan kesehatan akut.


Bagaimana mungkin kita membangun generasi yang sehat jika fondasinya sendiri retak oleh kelalaian berulang? Solusi tidak cukup dengan "evaluasi mendalam" yang sudah berkali-kali dijanjikan. Diperlukan perubahan radikal. Pertama, moratorium sementara di wilayah-wilayah rawan sampai seluruh SPPG memenuhi standar keamanan pangan yang ketat dan dapat diverifikasi secara independen.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Awas Erupsi Susulan, BNPB Desak Warga Karo di Zona Merah Segera Dievakuasi ke Tempat Aman
Hasil Lab Negatif, Dugaan Keracunan MBG di SMAN 1 Lubukpakam Terjawab
Presiden Prabowo di Rute Konstitusi "Welfare State"
Kejagung Sita Aset Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Senilai Rp8,4 Miliar, Ada Rolex hingga Mobil Mewah!
Erupsi Gunung Sinabung Berdampak ke 1.832 Hektare Lahan Pertanian Karo, Ini Komoditas yang Terdampak
748 Orang Keracunan MBG di Sidoarjo, BGN Copot Kepala SPPG Kalitengah
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru