Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
SEKADAR menyebut bahwa pakar atau ahli (expert) sedang menghadapi masalah besar di jagat media sosial agaknya keliru.
Di negeri kita, pakar atau ahli juga berhadapan dengan negara yang gagal paham menyangkut fungsi dan peran seorang ahli.
"Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar, saking pintarnya jadi g**l*k," ucap Presiden Prabowo Subianto di HUT ke-28 Partai Amanat Nasional, 18 September 2026.
Baca Juga:
Dalam "The Dead of Expertise", Tom Nichols mengemukakan fenomena 'matinya kepakaran' di ruang-ruang media sosial.
Setiap orang mengklaim berhak bicara atas segala hal--bahkan pada tingkat yang melampaui kemampuan mereka.
Di satu sisi, hal ini adalah demokratisasi. Warga negara dapat berpartisipasi atas isu-isu yang menyangkut kepentingan mereka.
Itu harus disyukuri sebagai cara warga negara terlibat, hadir, dan memengaruhi negara.
Namun, di sisi lain, karena intens, menerabas, dan menerobos hal-hal yang sesungguhnya tidak dikuasai, suara-suara kerumunan di media sosial bukan hanya menggerogoti, tapi mematikan suara sang ahli atau pakar.
Suara otoritatif, relevan, dan absah atau sahih menurut bidang ilmu dan pengetahuan ditawar, dinisbikan, dan akhirnya dilucuti serta mati.
Di media sosial, setiap orang merasa bahwa pendapat atau opininya setara dengan suara pakar.
Makin nisbi dan menakutkan ketika artificial intelligence (AI) belakangan menyapu ruang-ruang sosial sehingga para pakar makin 'mati'.
Tusukan kepada kepakaran beranak pinak.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.