BREAKING NEWS
Senin, 05 Oktober 2026

Mengapa Banyak Civil Society Merasa Dikhianati Oleh Rocky Gerung?

Tentang Hak Seorang Intelektual Publik Memilih Posisi
Redaksi - Senin, 05 Oktober 2026 08:50 WIB
Mengapa Banyak Civil Society Merasa Dikhianati Oleh Rocky Gerung?
Rocky Gerung dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Jumat (2/10/2026). (foto: Setpres/yt)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Nasihat tertutup mungkin jauh lebih efektif. Satu kalimat di ruang Presiden terkadang dapat mengubah kebijakan lebih cepat daripada seratus pidato di ruang publik.

Rocky sendiri menyebut salah satu perannya ialah mengolah persepsi publik supaya sama dengan persepsi Presiden.

Di sinilah kegelisahan itu menemukan alamatnya: kini siapa menerjemahkan siapa?

Ada pula harga demokratisnya. Masyarakat tidak selalu mengetahui apakah nasihat itu diberikan, seberapa keras disampaikan, dan apakah kekuasaan sungguh bersedia mendengarnya.

Bagi pengikut Rocky, rasanya seperti melihat sebuah lampu dipindahkan dari halaman menuju ruang dalam Istana. Ruangan di dalam mungkin menjadi lebih terang.

Namun pertanyaan mereka sederhana: apakah orang-orang yang tetap berdiri di luar pagar masih mendapatkan cahaya yang selama ini menerangi mereka?

Kontra-argumen terhadap seluruh kritik tersebut sangat kuat. Tanpa kontra-argumen ini, kritik terhadap Rocky justru berisiko berubah menjadi dogma baru yang tidak liberal.

Mengapa seorang pengkritik harus selamanya berada di luar? Mengapa seorang intelektual hanya dianggap murni selama tangannya tidak pernah menyentuh mesin pemerintahan?

Sejarah justru memperlihatkan sebaliknya. Václav Havel adalah penulis dan pembangkang komunis sebelum akhirnya memimpin Cekoslowakia dan kemudian menjadi Presiden Republik Ceko.

Lech Wałęsa berangkat dari galangan kapal Gdańsk, memimpin gerakan Solidarność melawan rezim komunis, lalu menjadi Presiden Polandia. Perlawanan akhirnya memasuki negara.

Fernando Henrique Cardoso bahkan lebih menarik. Ia sosiolog terkemuka, akademisi, dan penentang kediktatoran militer Brasil sebelum masuk politik dan akhirnya menjadi presiden.

Cardoso tidak berhenti menjadi intelektual ketika memasuki pemerintahan. Ia membawa pengetahuan akademiknya ke arena tempat teori harus berhadapan langsung dengan keterbatasan kenyataan.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rocky Gerung Dipangku Kekuasaan
Jelang Putusan PHPU, THMP Yakin MK Tak Kabulkan Permohonan Diskualifikasi Gibran: Sudah Wakil Presiden, Bukan Lagi Calon
PSI Pasang Badan Bela Gibran: Urusan Ijazah Ini Kapan Selesainya Ya?
Ini Perbandingan Jumlah Anggota dan Hak Keuangan Wantimpres Era SBY, Jokowi, hingga Prabowo
Profil dan Rekam Jejak Rocky Gerung, Pernah Terlibat Sengketa Lahan dengan Sentul City
Sebut Ada Politisasi, Jokowi Tak Khawatir soal Gugatan Pendidikan Gibran: Saya yang Mengantarkan ke Sekolah
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru