BREAKING NEWS
Senin, 05 Oktober 2026

Mengapa Banyak Civil Society Merasa Dikhianati Oleh Rocky Gerung?

Tentang Hak Seorang Intelektual Publik Memilih Posisi
Redaksi - Senin, 05 Oktober 2026 08:50 WIB
Mengapa Banyak Civil Society Merasa Dikhianati Oleh Rocky Gerung?
Rocky Gerung dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Jumat (2/10/2026). (foto: Setpres/yt)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Tetapi ada perbedaan penting. Havel, Wałęsa, dan Cardoso masuk dengan mandat sendiri. Rocky masuk sebagai penasihat yang kursinya diberikan Presiden. Jarak kritis menjadi lebih sulit dijaga.

Meski demikian, memasuki kekuasaan bukanlah pengkhianatan. Bahkan dalam keadaan tertentu, menolak masuk kekuasaan dapat menjadi kemewahan moral yang tidak menghasilkan perubahan konkret.

Seorang dokter tidak kehilangan integritas karena memasuki ruang operasi. Ia kehilangan integritas jika mulai menutupi kesalahan di meja bedah. Demikian pula intelektual ketika memasuki ruang pengambilan keputusan.

Rocky dapat mengajukan pembelaan yang masuk akal: mengapa terus berteriak dari luar pagar jika tersedia kesempatan membisikkan koreksi langsung kepada Presiden?

Ia juga menegaskan Wantimpres mempunyai kedudukan etis, bukan teknis, termasuk membaca ekses kebijakan dan memberikan pertimbangan mengenai arah kebijakan pemerintah.

Pembelaan itu sah. Bahkan penting. Tetapi justru karena sah, ukuran pembuktiannya menjadi sederhana: apakah akses baru tersebut menghasilkan keberanian yang lebih efektif?

Masuk Istana tidak dengan sendirinya bermasalah. Persoalan baru muncul jika kedekatan kepada kekuasaan membuat standar moral terhadap kekuasaan menjadi lebih lunak daripada sebelumnya.

Karena itu, sejarah Havel, Wałęsa, dan Cardoso tidak membebaskan Rocky dari pertanyaan. Sejarah mereka justru menyediakan ukuran untuk menilai pilihan Rocky.

Yang menentukan bukan apakah seorang intelektual berada di luar atau di dalam kekuasaan. Yang menentukan adalah apa yang terjadi pada nuraninya setelah berpindah.

Namun analogi itu memiliki batas. Havel dan Wałęsa memasuki kekuasaan dengan mandat gerakan rakyat. Rocky masuk melalui penunjukan Presiden.

Perbedaan itu penting. Semakin dekat seorang intelektual kepada kekuasaan, semakin besar kewajibannya membuktikan bahwa akses tidak berubah menjadi ketergantungan.

Dua buku klasik membantu membawa perdebatan ini melampaui Rocky Gerung, menuju pertanyaan universal mengenai hubungan intelektual, kekuasaan, kebenaran, dan tanggung jawab moral.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rocky Gerung Dipangku Kekuasaan
Jelang Putusan PHPU, THMP Yakin MK Tak Kabulkan Permohonan Diskualifikasi Gibran: Sudah Wakil Presiden, Bukan Lagi Calon
PSI Pasang Badan Bela Gibran: Urusan Ijazah Ini Kapan Selesainya Ya?
Ini Perbandingan Jumlah Anggota dan Hak Keuangan Wantimpres Era SBY, Jokowi, hingga Prabowo
Profil dan Rekam Jejak Rocky Gerung, Pernah Terlibat Sengketa Lahan dengan Sentul City
Sebut Ada Politisasi, Jokowi Tak Khawatir soal Gugatan Pendidikan Gibran: Saya yang Mengantarkan ke Sekolah
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru