BREAKING NEWS
Senin, 06 Juli 2026

Sudah Tahukah Kamu? Ada Masjid di Medan Berusia Lebih dari 170 Tahun, Nomor 1 Lebih Megah dari Istana Sultan!

Abyadi Siregar - Senin, 06 Juli 2026 15:56 WIB
Sudah Tahukah Kamu? Ada Masjid di Medan Berusia Lebih dari 170 Tahun, Nomor 1 Lebih Megah dari Istana Sultan!
Masjid Raya Al-Mashun. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN – Kota Medan tidak hanya dikenal sebagai pusat perdagangan dan ibu kota Sumatera Utara, tetapi juga menyimpan jejak panjang perkembangan Islam melalui sejumlah masjid bersejarah yang masih berdiri hingga sekarang.

Sebagian besar bangunan tersebut telah berusia lebih dari satu abad dan tetap difungsikan sebagai tempat ibadah.

Selain menjadi pusat kegiatan keagamaan, masjid-masjid tua ini juga menjadi saksi perjalanan sejarah Kota Medan sejak abad ke-19.

Baca Juga:

Arsitekturnya menampilkan perpaduan budaya Melayu, Timur Tengah, India, Tiongkok, hingga Eropa yang menjadikannya memiliki karakter unik dan bernilai tinggi.

Beberapa di antaranya bahkan telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya karena masih mempertahankan bentuk asli serta memiliki nilai sejarah yang penting bagi perkembangan Kota Medan.

Berikut lima masjid tua bersejarah yang masih berdiri kokoh dan menjadi destinasi wisata religi di Kota Medan.

1. Masjid Raya Al-Mashun

Masjid Raya Al-Mashun menjadi ikon Kota Medan sekaligus simbol kejayaan Kesultanan Deli.

Masjid yang berada di Jalan Sisingamangaraja ini mulai dibangun pada 21 Agustus 1906 atas prakarsa Sultan Ma'mun Al Rasyid Perkasa Alamsyah dan diresmikan pada 10 September 1909.

Bangunan yang dirancang arsitek Belanda G.D. Langereis tersebut memadukan gaya arsitektur Moorish, Timur Tengah, India Mughal, Spanyol, dan Eropa.

Keindahannya semakin terlihat melalui kubah berwarna hitam, marmer yang didatangkan dari Italia, serta kaca patri dari Belanda yang masih terawat hingga kini.

Konon, Sultan Ma'mun sengaja membangun masjid ini dengan kemegahan yang bahkan melebihi Istana Maimun sebagai bentuk penghormatan terhadap syiar Islam.

2. Masjid Al-Osmani

Masjid Al-Osmani di kawasan Labuhan Deli dikenal sebagai masjid tertua yang masih berdiri di Kota Medan.

Masjid ini pertama kali dibangun pada 1854 oleh Sultan Osman Perkasa Alam, Sultan Deli ketujuh.

Pada awalnya bangunan masjid menggunakan material kayu.

Kemudian, sekitar tahun 1870-an, Sultan Mahmud Al Rasyid melakukan renovasi dengan menggunakan batu bata sehingga bangunannya menjadi lebih kokoh.

Dominasi warna kuning yang menghiasi bangunan menjadi simbol kebesaran budaya Melayu.

Sementara ornamen di dalamnya memperlihatkan perpaduan seni Melayu, Timur Tengah, India, dan Eropa.

3. Masjid Lama Gang Bengkok

Di kawasan Kesawan berdiri Masjid Lama Gang Bengkok yang menjadi simbol akulturasi budaya Melayu dan Tionghoa di Kota Medan.

Masjid ini dibangun pada 1874 atas prakarsa saudagar terkenal Tjong A Fie bersama Kesultanan Deli.

Nama Gang Bengkok berasal dari gang kecil yang dahulu berada di depan masjid dengan bentuk jalan yang berkelok.

Keunikan bangunan ini terlihat dari perpaduan arsitektur Melayu dengan ornamen khas Tiongkok pada bagian atap, tiang, dan ukiran.

Hingga saat ini sebagian besar struktur asli bangunan masih tetap dipertahankan sehingga menjadikannya salah satu masjid bersejarah paling autentik di Medan.

4. Masjid Badiuzzaman

Masjid Badiuzzaman di Kecamatan Medan Sunggal memiliki sejarah yang berbeda dibandingkan masjid tua lainnya

. Masjid yang didirikan sekitar tahun 1885 oleh Datuk Badiuzzaman Surbakti ini dipercaya dibangun tanpa menggunakan semen.

Sebagai perekat bangunan, masyarakat pada masa itu memanfaatkan campuran kapur, pasir, dan putih telur, teknik konstruksi tradisional yang juga digunakan pada sejumlah bangunan kuno di Nusantara.

Meski telah berusia lebih dari 140 tahun, bangunan masjid masih berdiri kokoh.

Mimbar, tiang utama, dan beberapa bagian interior masih merupakan struktur asli peninggalan abad ke-19.

5. Masjid Jamik Kesawan

Masjid Jamik Kesawan menjadi salah satu saksi awal perkembangan Islam di pusat Kota Medan.

Masjid ini diperkirakan berdiri pada akhir abad ke-19 ketika kawasan Kesawan berkembang menjadi pusat perdagangan setelah hadirnya perkebunan tembakau Deli.

Sejak awal berdiri, masjid ini menjadi tempat ibadah para pedagang, ulama, dan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut.

Walaupun telah beberapa kali mengalami renovasi, bangunan ini masih mempertahankan sejumlah elemen arsitektur lama yang mencerminkan perpaduan budaya Melayu dan kolonial.

Keberadaan lima masjid tua tersebut menunjukkan bahwa perkembangan Kota Medan tidak dapat dipisahkan dari sejarah penyebaran Islam dan kejayaan Kesultanan Deli.

Selain menjadi tempat ibadah, bangunan-bangunan bersejarah ini juga menjadi tujuan wisata religi, penelitian sejarah, hingga edukasi budaya bagi masyarakat.

Di tengah pesatnya perkembangan kota modern, masjid-masjid tersebut tetap berdiri kokoh sebagai warisan sejarah yang terus dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.* (tm/ad)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Jaringan Vape Narkoba Malaysia Terbongkar di Medan, Kurir Tunggu Perintah di Hotel
8 Cara Rasulullah SAW Menjaga Kekhusyukan Salat, Muslim Perlu Meneladaninya
Cari Batu di Pinggir Sungai, Warga Medan Malah Temukan Granat Aktif
Rico Waas Resmikan Mata Deli, 200 CCTV Awasi Titik Rawan Kriminal dan Siap Jadi Percontohan Kota Medan
Rico Waas Puji Khitanan Massal 200 Anak di Medan Deli, Minta Jadi Program Rutin
HUT ke-436 Kota Medan Meriah, Rico Waas Janji Benahi Jalan, Drainase hingga Kesejahteraan Warga
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru