Kepala BNPT Komjen Eddy Hartono, Jubir Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana hibgga Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Kemkomdigi, Alexander Sabar di Mabes Polri, Selasa (18/11/2025). (foto: sindonews)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Anak-anak atau pelajar awalnya dibuat tertarik melalui konten video pendek, animasi, meme, dan musik yang dikemas menarik.
Setelah itu, anak-anak dihubungi secara pribadi dan dimasukkan ke grup privat untuk doktrin ideologi teror.
"Propaganda disebarkan untuk membangun kedekatan emosional dan memicu ketertarikan ideologis," ujarnya.
Faktor lingkungan turut memengaruhi keterpaparan anak pada paham radikal, termasuk bullying, broken home, kurang perhatian keluarga, pencarian jati diri, marginalisasi sosial, serta minim literasi digital dan pemahaman agama.
Densus 88 telah menetapkan lima tersangka dalam kasus rekrutmen anak ini.
Mereka ditangkap di Sumatera Utara, Jawa Tengah, hingga Sumatera Barat.
Identitas tersangka meliputi: FW alias YT (47) di Medan, LN (23) di Bangai, PP alias BMS (37) di Sleman, MSPO (18) di Tegal, dan JJS alias BS (17) di Agam.
"Kelima tersangka berperan merekrut dan memengaruhi anak-anak agar bergabung dengan kelompok terorisme dan melakukan aksi radikal," kata Trunoyudo.
Jubir Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menambahkan bahwa metode rekrutmen juga memanfaatkan sarana komunikasi dalam game online.
Anak-anak dibawa ke grup privat secara bertahap untuk didoktrin, bukan langsung dikenalkan ideologi radikal.
Kasus ini menjadi peringatan penting bagi orang tua dan pendidik untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak di media sosial dan platform game online.*
(bi/ad)
Editor
: Raman Krisna
Densus 88 Tangkap 5 Tersangka Rekrutmen Anak ke Jaringan Terorisme, Satu Berasal dari Medan!