JAKARTA— Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat ketahanan pangan nasional dengan memanfaatkan teknologi iradiasi nuklir melalui fasilitas Akselerator Elektron Energi Tinggi (AEET).
Fasilitas yang terletak di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) G.A. Siwabessy, Pasar Jumat, Jakarta, ini diharapkan dapat mendukung berbagai program pemerintah, terutama dalam hal keamanan pangan dan peningkatan kualitas ekspor produk pangan.
Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa teknologi electron beam (E-Beam) yang digunakan dalam fasilitas AEET memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan teknologi iradiasi lainnya, seperti gamma dan sinar-X. Teknologi ini terbukti lebih cepat, lebih efisien, dan lebih mudah dikontrol untuk berbagai kebutuhan sterilisasi produk.
"Fasilitas AEET mampu melakukan proses sterilisasi hingga 25 ton produk dalam waktu sekitar 1,5 jam, menjadikannya salah satu fasilitas yang efisien untuk mendukung kebutuhan industri, terutama di sektor pangan, kesehatan, dan kosmetik," ungkap Arif Satria dalam keterangannya, Minggu (15/3/2026).
Meningkatkan Kualitas dan Masa Simpan Produk Pangan
Arif menambahkan bahwa AEET berperan penting dalam meningkatkan kualitas ekspor produk pangan serta mendukung program makan bergizi nasional.
Salah satu manfaat utama teknologi ini adalah memperpanjang masa simpan bahan pangan, termasuk beras, rempah-rempah, makanan siap saji, hingga produk konsumen lainnya. Sterilisasi yang dilakukan dengan AEET dapat membuat produk tersebut memiliki daya simpan hingga ratusan hari.
"Produk yang dapat diproses melalui fasilitas ini termasuk bahan pangan, bahan baku kosmetik, produk kesehatan, dan bahan baku produk konsumen. Ini menunjukkan bahwa teknologi dapat memberikan dampak positif bagi ketahanan pangan dan sektor industri lainnya," jelas Arif.
Dampak Ekonomi Positif untuk Negara
Kerja sama antara BRIN dan industri dalam pengelolaan fasilitas AEET diharapkan juga akan menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan.
Selama lima tahun masa kolaborasi, diperkirakan pendapatan yang dihasilkan mencapai sekitar Rp247 miliar, yang sebagian di antaranya akan berkontribusi pada penerimaan negara.
"Fasilitas AEET ini tidak hanya menguntungkan bagi sektor pangan, tetapi juga menunjukkan bagaimana penelitian dan teknologi dapat berkolaborasi dengan industri untuk meningkatkan penerimaan negara dan memperkuat ekosistem inovasi nasional," kata Arif Satria.