OJK Blokir 33.836 Rekening Judi Online, Upaya Berantas Transaksi Ilegal Terus Diperkuat
JAKARTA Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat upaya pemberantasan judi online dengan meminta perbankan memblokir puluhan ribu re
NASIONAL
BITV EDUCATION -Pada 28 Oktober 1928, sebuah momen bersejarah tercipta di Jakarta ketika Kongres Pemuda II digelar. Di tengah diskusi yang penuh semangat, lagu “Indonesia Raya” pertama kali dilantunkan oleh seorang pemuda berbakat, Wage Rudolf (WR) Supratman. Momen ini bukan hanya menjadi catatan penting dalam sejarah pergerakan pemuda Indonesia, tetapi juga menjadi simbol perjuangan kemerdekaan yang terus dikenang hingga kini.
Keberanian di Tengah AncamanKongres Pemuda II diadakan di tiga tempat berbeda, yaitu Gedung Perhimpunan Pemuda Katolik, Gedung Oost Java Bioscoop, dan Gedung Indonesische Clubgebouw. Supratman, yang hadir di kongres tersebut, membawa sebuah surat kepada Sugondo Djojopuspito, pemimpin kongres, dengan permohonan untuk membawakan lagu kebangsaan ciptaannya. Namun, situasi pada saat itu tidaklah mudah; kongres diawasi ketat oleh Polisi Rahasia Belanda yang mengawasi setiap langkah para pemuda.
Meskipun tidak mendapatkan jawaban atas permintaannya, Supratman tidak kehilangan harapan. Dengan penuh keyakinan, ia bertanya langsung kepada Sugondo, “Bung Gondo, apakah saya dapat memperdengarkannya sekarang?” Menyadari kesungguhan Supratman, Sugondo kemudian meminta izin kepada petinggi pemerintah Belanda yang hadir. Meskipun jawaban yang diberikan tidak memuaskan, Sugondo akhirnya memberikan izin untuk memperkenalkan lagu tersebut, dengan syarat hanya dimainkan melodi biola.
Melodi yang Menggetarkan JiwaDengan semangat yang membara, WR Supratman berdiri di hadapan peserta kongres, mengeluarkan biolanya, dan mulai menggesekkan senar-senarnya. Suara melodi “Indonesia Raya” mengalun indah, membawa semua peserta dalam suasana khidmat. Antusiasme para pemuda membuat suasana menjadi lebih hidup. Mereka berdiri dan menikmati lantunan lagu tersebut dengan penuh rasa bangga, bahkan ketika lagu selesai, Supratman dirangkul dengan mata berkaca-kaca oleh peserta kongres.
Salah satu momen yang paling mengesankan adalah ketika para pemuda yang hadir meminta Supratman untuk mengulangi penampilannya. Seruan “Bis! Bis! Bis!” menggema, menandakan betapa lagu ini telah menyentuh hati mereka. Namun, Supratman menepati janjinya untuk tidak menyanyi, tetap menjaga kesepakatan yang telah dibuat dengan Sugondo.
Awal Sebuah LegendaLagu “Indonesia Raya” pertama kali diperkenalkan setelah Supratman terinspirasi oleh sayembara yang diterbitkan di sebuah majalah pada tahun 1924. Dalam sayembara tersebut, dicarikan seseorang yang bisa menciptakan lagu kebangsaan untuk Indonesia. Supratman pun menjawab tantangan ini dengan menciptakan komposisi musik dan lirik yang orisinal. Sejak malam Sumpah Pemuda itu, namanya mulai dikenal luas dan lagu tersebut menjadi sangat populer di kalangan pemuda.
Namun, popularitas lagu “Indonesia Raya” juga menarik perhatian pemerintah kolonial. Gubernur Jenderal Belanda, De Graeff, sampai harus menegaskan bahwa lagu tersebut bukanlah lagu kebangsaan dan melarangnya untuk diperdengarkan secara umum pada tahun 1930. Akibatnya, WR Supratman dipanggil dan diinterogasi oleh aparat Belanda. Ia membantah tuduhan bahwa lagunya menghasut rakyat untuk memberontak, dan menunjukkan lirik asli yang mencantumkan kata “Mulia” bukan “Merdeka”.
Perjuangan dan KesedihanSejak saat itu, WR Supratman hidup berpindah-pindah untuk menghindari penangkapan. Ia terus berjuang meskipun dalam keadaan tertekan. Namun, kesehatan Supratman menurun, dan pada tahun 1938, ia ditangkap lagi oleh Belanda karena lagu “Matahari Terbit” yang dianggap mendukung Jepang. Meskipun ia dibebaskan karena kurangnya bukti, kondisi kesehatannya semakin memburuk.
WR Supratman wafat pada 17 Agustus 1938, tujuh tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan. Meskipun ia tidak dapat menyaksikan kemerdekaan bangsanya, warisannya hidup melalui lagu “Indonesia Raya”, yang hingga kini tetap berkumandang sebagai simbol persatuan dan semangat perjuangan bangsa.
Momen Sumpah Pemuda dan keberanian WR Supratman dalam memperkenalkan lagu kebangsaan merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Di tengah tantangan dan ancaman, lagu “Indonesia Raya” telah menjadi nyanyian yang menyatukan hati dan jiwa bangsa, mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dalam mencapai kemerdekaan dan kedaulatan. Hingga hari ini, lagu ini terus menginspirasi generasi penerus untuk menjaga semangat perjuangan yang telah diwariskan.
(N/014)
JAKARTA Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat upaya pemberantasan judi online dengan meminta perbankan memblokir puluhan ribu re
NASIONAL
JAKARTA Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat upaya peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) dalam neger
EKONOMI
JAKARTA Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa kembali membantah kabar yang menyebut dirinya akan mundur dari jabatan Bendahara
NASIONAL
JAKARTA Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini mengaku pihaknya tidak pernah menerima laporan maupun informasi terkait pengadaan baran
NASIONAL
JAKARTA Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyambut positif putusan Pengadilan Tinggi Singapura yang menolak gugatan Paulus Tannos terk
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto resmi menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 30 Tahun 2026 tentang Pengesahan International
NASIONAL
JAKARTA Timnas Indonesia akan menghadapi Oman dalam laga FIFA Matchday 2026 yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK),
OLAHRAGA
BANDA ACEH Satresnarkoba Polresta Banda Aceh mengungkap 38 kasus peredaran narkotika sepanjang Januari hingga Mei 2026. Dalam periode te
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menjaga kedaulatan negara atas sumber daya alam melalui langkah tegas penertiban kawasan
NASIONAL
JAKARTA Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap aman meski mengalami
EKONOMI