Ia hadir bersama sejumlah pimpinan perangkat daerah dan para camat di lingkungan Pemerintah Kota Medan.
Rico mengatakan film tersebut menjadi bukti bahwa ekosistem kreatif di Medan memiliki potensi besar untuk berkembang secara mandiri, mulai dari proses produksi hingga pascaproduksi yang seluruhnya dikerjakan di kota tersebut.
"Film ini diproduksi di Kota Medan, dibuat oleh anak Kota Medan, aktornya orang Kota Medan sendiri, dan finishing-nya semuanya di Kota Medan. Artinya, ini milik kita bersama," kata Rico.
Ia juga memberikan apresiasi kepada produser filmSamudera, Dewi Budiarti, yang dinilainya memiliki peran penting dalam mewujudkan karya sinematik tersebut.
Menurut Rico, Samudera tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga memuat narasi yang dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir di wilayah utara Kota Medan yang sarat dengan persoalan sosial.
"Cerita ini mengambil latar pesisir dengan berbagai persoalan sosial yang terjadi di sana," ujarnya.
Rico menilai film tersebut dapat menjadi pemantik bagi generasi muda untuk lebih berani mengangkat cerita lokal ke dalam karya sinema.
Ia menyebut Kota Medan menyimpan banyak kisah yang belum tergarap secara maksimal.
"Kalau kita berkeliling Kota Medan, masih banyak cerita lain yang sangat layak diangkat," kata dia.