Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
"Medan butuh belajar dengan kota lain, kota lain mungkin perlu belajar dengan Kota Medan. Kita sama-sama berbagi success story agar kota-kota kita semakin hijau dan berkelanjutan," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Rico juga memaparkan tantangan pengelolaan sampah di Kota Medan.
Setiap hari, Medan menghasilkan sekitar 1.500 hingga 1.700 ton sampah.
Jumlah tersebut dipengaruhi oleh populasi sekitar 2,5 juta jiwa yang pada siang hari dapat meningkat menjadi sekitar 4 juta orang karena Medan menjadi pusat aktivitas ekonomi di kawasan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kota Medan terus menyiapkan berbagai langkah, salah satunya melalui pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Medan menjadi salah satu daerah yang ditunjuk sebagai pionir pelaksanaan proyek tersebut, dengan pembangunan yang ditargetkan dimulai pada akhir tahun ini.
Menurut Rico, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya agar volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan dapat terus berkurang dan memberikan dampak nyata bagi kualitas lingkungan.
Mengangkat tema "Dari Komitmen ke Aksi: Tangguh untuk Mempercepat Penurunan Emisi di Indonesia", Rico mengajak seluruh peserta forum untuk tidak berhenti pada diskusi semata.
"Kita pulang ke kota masing-masing harus membawa aksi nyata. Jangan hanya berbicara di ruang ini, tetapi wujudkan komitmen itu menjadi program yang benar-benar dirasakan masyarakat," pesannya.
Forum Lingkungan Hidup kemudian dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua Bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim APEKSI, Illiza Sa'aduddin Djamal.
Dalam sambutannya, Illiza mengapresiasi Pemerintah Kota Medan sebagai tuan rumah Rakernas APEKSI 2026 sekaligus penyelenggara Forum Lingkungan Hidup.
Ia juga menilai kepemimpinan Rico Waas mulai menghadirkan perubahan bagi Kota Medan.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.