Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
MEDAN- Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas mengatakan Pemerintah Kota (Pemko) Medan akan memperluas basis penerimaan pajak dan retribusi daerah sebagai bagian dari upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Langkah tersebut dilakukan melalui peningkatan kepatuhan wajib pajak, optimalisasi potensi daerah, penguatan pengawasan serta digitalisasi administrasi dan pemungutan.
"Optimalisasi penerimaan daerah tidak semata-mata dilakukan melalui kenaikan tarif," kata Rico dalam rapat paripurna DPRD Medan, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga:
Rapat tersebut membahas tanggapan kepala daerah terhadap pemandangan umum fraksi-fraksi DPRD atas penjelasan mengenai Ranperda Perubahan atas Perda Kota Medan Nomor 1 Tahun 2024 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Rico mengatakan perubahan perda tersebut disusun dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (HKPD) serta Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2023.
Menurutnya, penyusunan perubahan aturan juga melalui pengkajian materi, penyelarasan kebijakan, penyusunan naskah akademik serta koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri.
"Proyeksi tambahan PAD dihitung berdasarkan potensi riil, tingkat kepatuhan, kondisi ekonomi masyarakat serta hasil evaluasi penerimaan masing-masing jenis pajak dan retribusi," ujarnya.
Pemko Medan menyatakan kebijakan pajak dan retribusi tetap mempertimbangkan kemampuan masyarakat, daya beli, kondisi perekonomian, perkembangan dunia usaha serta iklim investasi.
Rico menilai peningkatan PAD perlu berjalan seimbang dengan pertumbuhan ekonomi dan kualitas pelayanan publik. Karena itu, peningkatan penerimaan daerah tidak hanya ditempuh melalui kenaikan tarif.
Dalam Perubahan APBD 2026, target PAD Kota Medan ditetapkan sekitar Rp3,875 triliun. Sementara dalam R-APBD 2027, PAD diproyeksikan mencapai Rp4,167 triliun atau meningkat sekitar Rp291,71 miliar.
"Peningkatan PAD bukan satu-satunya indikator keberhasilan, tetapi harus seimbang dengan pertumbuhan ekonomi, kualitas pelayanan publik dan keberlangsungan aktivitas usaha," tegas Rico.
Perubahan perda pajak dan retribusi juga mencakup penyempurnaan ketentuan retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), termasuk pencantuman Standar Harga Satuan Tertinggi (SHST) dan penyesuaian tabel indeks sesuai PP Nomor 16 Tahun 2021.
Selain itu, terdapat penyesuaian tarif pelayanan kebersihan serta penghapusan objek retribusi penyedotan kakus pada Dinas Lingkungan Hidup.
Rico kembali menegaskan optimalisasi penerimaan daerah akan dilakukan melalui berbagai langkah selain perubahan tarif.
"Optimalisasi PAD tidak semata-mata dilakukan melalui peningkatan tarif, tetapi juga melalui perluasan basis penerimaan, peningkatan kepatuhan, optimalisasi potensi, penguatan pengawasan, serta digitalisasi administrasi dan pemungutan," jelasnya.
Dalam rapat tersebut, Pemko Medan juga memaparkan upaya pengamanan aset daerah. Pengamanan hukum dilakukan melalui legalisasi dan sertifikasi tanah serta bangunan, sedangkan pengamanan fisik dilakukan dengan pemasangan plang penanda aset dan patok pembatas lahan.
Pemko Medan juga melakukan penertiban terhadap aset yang terlantar maupun yang dikuasai pihak lain tanpa izin. Sistem inventarisasi dan keterbukaan informasi aset turut dikembangkan untuk mendukung pengelolaan yang lebih transparan dan akuntabel.
Selain itu, aset daerah yang memiliki potensi ekonomi akan dioptimalkan pemanfaatannya sehingga dapat memberikan kontribusi terhadap PAD.
Dalam rangka pembahasan Ranperda Perubahan atas Perda Nomor 1 Tahun 2024, DPRD Medan juga membentuk Panitia Khusus (Pansus). Pembahasan tersebut menjadi bagian dari rangkaian proses legislasi daerah sebelum perubahan perda ditetapkan.* (dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.