BREAKING NEWS
Kamis, 14 Mei 2026

PDIP Klaim Jakarta Kini Jadi “Kandang Banteng” Baru, Meski Kehilangan Jawa Tengah di Pilkada 2024

BITVonline.com - Kamis, 28 November 2024 10:59 WIB
PDIP Klaim Jakarta Kini Jadi “Kandang Banteng” Baru, Meski Kehilangan Jawa Tengah di Pilkada 2024
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA -Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menghadapi tantangan berat dalam Pemilihan Gubernur (Pilkada) 2024, dengan hasil yang menunjukkan kekalahan calon gubernur Andika Perkasa-Hendrar Prihadi (Hendi) di Jawa Tengah. Meskipun kehilangan salah satu basis politik kuatnya, PDIP tampaknya sudah memiliki “kandang banteng” baru yang lebih strategis, yaitu Jakarta.

Ketua Bappilu Eksekutif PDIP, Deddy Sitorus, menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers yang digelar di Kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro, Jakarta, Kamis (28/11). Deddy menegaskan bahwa meskipun PDIP harus melepas kendali atas Jawa Tengah, mereka telah berhasil memenangkan DKI Jakarta, yang kini menjadi pusat kekuatan politik baru bagi partai berlambang banteng moncong putih tersebut.

“Kami memenangkan DKI Jakarta. Jadi dari Jawa Tengah, PDI Perjuangan kandangnya sekarang di Ibu Kota Jakarta,” ujar Deddy dengan penuh percaya diri.

PDIP berhasil memenangkan Pilgub Jakarta 2024 dengan pasangan calon Pramono Anung dan Rano Karno yang berhasil meraih kemenangan satu putaran. Menurut Deddy, meski Jawa Tengah tidak lagi menjadi “kandang banteng” dalam konteks pemilihan gubernur, PDIP tetap mempertahankan loyalitas pemilihnya yang setia.

“Apakah Jawa Tengah bukan lagi kandang banteng? Ya, dalam arti pemilihan gubernur. Tapi dari sisi suara, PDIP masih memperoleh lebih dari 40% suara, meski harus melepas posisi pucuk Jawa Tengah. Jadi, pemilih kami masih tetap setia dan bahkan bertambah,” tambah Deddy.

Meskipun begitu, Deddy tidak menutup mata terhadap isu-isu yang muncul terkait proses Pilkada, termasuk dugaan adanya politik uang dan penyalahgunaan kekuasaan dalam proses tersebut. Ia menyoroti adanya sistem yang disebut “politik Jokowisme,” di mana segala macam cara digunakan untuk meraih hasil yang diinginkan, termasuk dengan memanfaatkan kekuasaan secara tidak sah.

“Politik ini menggunakan segala macam cara, bahkan sampai menggunakan kekuasaan untuk mencapai hasil yang diinginkan,” ujar Deddy, yang juga menyebut adanya komando dari pihak tertentu, dengan penekanan pada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Pernyataan Deddy semakin menyoroti bagaimana polarisasi politik dan dugaan praktik kecurangan turut mewarnai jalannya Pilkada 2024. Ia juga menyatakan bahwa, dengan berakhirnya dominasi Jawa Tengah, kini provinsi tersebut tidak lagi bisa disebut sebagai “kandang banteng” PDIP. Sebagai gantinya, ia menyebut Jawa Tengah lebih cocok disebut sebagai “kandang bansos dan parcok” (Partai Cokelat).

(N/014)

0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru