BREAKING NEWS
Sabtu, 14 Maret 2026

Dari Batu ke Dialog: Tantangan Gerakan Mahasiswa Kontemporer

gusWedha - Sabtu, 20 Desember 2025 23:10 WIB
Dari Batu ke Dialog: Tantangan Gerakan Mahasiswa Kontemporer
Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi bertajuk “Dilema Gerakan Mahasiswa: Terkuburnya Substansi Tuntutan di Bawah Tumpukan Puing Kerusuhan” yang digelar CLS Yogyakarta, Jumat (19/12/2025), di Banguntapan, Bantul. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

YOGYAKARTA – Aktivis Hak Asasi Manusia sekaligus Dewan Pembina Constitutional Law Study (CLS), Abdul Haris Nepe, mengingatkan pentingnya substansi dalam gerakan mahasiswa di era kontemporer.

Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi bertajuk "Dilema Gerakan Mahasiswa: Terkuburnya Substansi Tuntutan di Bawah Tumpukan Puing Kerusuhan" yang digelar CLS Yogyakarta, Jumat (19/12/2025), di Banguntapan, Bantul.

Puluhan mahasiswa dan aktivis dari berbagai latar belakang hadir dalam forum ini.

Baca Juga:

Abdul Haris menekankan, gerakan mahasiswa seharusnya berperan sebagai kompas moral bangsa untuk menjaga arah demokrasi.

Namun, ia melihat praktik perjuangan saat ini lebih reaktif dan destruktif, bahkan mengarah pada anarkisme.

"Anarkisme bukan simbol kekuatan, melainkan tanda kegagalan komunikasi. Ketika ruang publik dipenuhi kekerasan, ruang dialog mati," ujar Abdul Haris.

Menurutnya, tindakan anarkis justru memisahkan mahasiswa dari masyarakat sipil, menimbulkan kerusakan fasilitas publik, dan mengaburkan pesan utama perjuangan.

Media lebih banyak menyoroti kekerasan daripada tuntutan yang dibawa, sehingga memberi peluang bagi penguasa untuk mendelegitimasi gerakan tanpa menjawab persoalan kebijakan yang dikritik.

Abdul Haris menegaskan, sejarah Indonesia lahir dari perdebatan ide yang kuat, bukan kekacauan tanpa arah.

Di era informasi, mahasiswa didorong bertransformasi menjadi penghasil solusi melalui jalur konstitusional, seperti penyusunan policy brief atau pengajuan judicial review.

"Aktivisme harus cerdas secara taktis agar demonstrasi tidak sekadar ritual tahunan yang melelahkan tanpa menghasilkan perubahan sistemik," pungkasnya.*

(dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gerakan Anak Muda dan Politik Musiman
Rakerda PWI Sumut 2025 Dibuka, Wagub Ingatkan Kebebasan Pers Bukan Tanpa Batas
Hari HAM Internasional: Gebrak dan KASBI Desak Pembebasan Aktivis Demonstrasi Agustus
Reformasi Politik ala Prabowo: Demokrasi Mahal Itu Sumber Korupsi!
Sekolah Demokrasi: Indonesia di Fase Krisis, Ancaman Serius Mengintai Institusi
Pemindahan Aktivis Rahmadi Menuai Kontroversi, Kuasa Hukum Tuduh Sewenang-wenang
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru