Dalam satu paket MBG, siswa menerima dua bungkus kecil roti kering, satu butir telur, satu buah jeruk, serta satu bungkus kecil kacang-kacangan. (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
BATUBARA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan hangat di Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.
Setelah sebelumnya menu MBG di tingkat sekolah dasar menjadi sorotan, kini pelaksanaan program tersebut di SMA Negeri 1 Tanjung Tiram menuai kritik dari sejumlah orang tua siswa.selasa 3/3/2026.
Sorotan muncul setelah beredarnya informasi mengenai menu yang dibagikan kepada para siswa.
Dalam satu paket MBG, siswa menerima dua bungkus kecil roti kering, satu butir telur, satu buah jeruk, serta satu bungkus kecil kacang-kacangan.
Menu tersebut dinilai belum mencerminkan kebutuhan gizi remaja SMA yang sedang dalam fase pertumbuhan aktif dan membutuhkan asupan energi lebih besar.
Salah seorang orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, porsi makanan terkesan minimalis dan belum tentu mencukupi kebutuhan kalori harian anak-anak yang menjalani aktivitas belajar penuh di sekolah.
"Anak SMA itu aktivitasnya padat. Kalau hanya roti kecil dua bungkus, satu telur, satu jeruk dan sedikit kacang, rasanya kurang. Kami berharap program ini benar-benar memperhatikan kecukupan gizi, bukan sekadar membagikan makanan," ujarnya.
Program MBG merupakan bagian dari kebijakan nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak sekolah guna mendukung konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, serta mencegah stunting dan kekurangan gizi.
Dalam berbagai kesempatan, Presiden menegaskan bahwa pelaksanaan program harus memperhatikan standar gizi seimbang, meliputi karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayur, buah, serta kecukupan kalori sesuai jenjang usia peserta didik.
Namun kondisi di lapangan menimbulkan pertanyaan, apakah komposisi menu tersebut telah melalui kajian ahli gizi dan sesuai dengan pedoman pemerintah pusat.
Beberapa pihak menduga adanya upaya efisiensi berlebihan oleh penyelenggara demi menekan biaya operasional, sehingga berdampak pada kualitas dan kuantitas makanan yang diterima siswa.
Jika benar demikian, hal ini bertentangan dengan semangat awal program MBG yang digagas untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas generasi muda.
Program yang sejatinya menjadi investasi jangka panjang bagi sumber daya manusia Indonesia diharapkan tidak hanya sekadar formalitas, tetapi benar-benar memberikan manfaat nyata.
Masyarakat mendesak adanya evaluasi menyeluruh dari instansi terkait, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Pengawasan ketat terhadap pihak penyedia makanan dinilai sangat penting agar kualitas tetap terjaga dan tidak menyimpang dari ketentuan yang berlaku.
Selain itu, transparansi dalam pengelolaan anggaran dan standar menu juga menjadi tuntutan publik. Dengan keterbukaan informasi, masyarakat dapat mengetahui apakah pelaksanaan program telah sesuai dengan arahan pemerintah atau masih perlu pembenahan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah maupun penyelenggara program MBG di SMA Negeri 1 Tanjung Tiram belum memberikan keterangan resmi terkait komposisi menu dan standar gizi yang digunakan.
Warga berharap polemik ini segera mendapat klarifikasi agar tidak menimbulkan persepsi negatif berkepanjangan.
Program yang bertujuan mulia ini diharapkan benar-benar menjadi solusi peningkatan gizi siswa, bukan justru menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.*
(dh)
Editor
: Adam
Menu MBG SMA Negeri 1 Tanjung Tiram Disorot, Orang Tua Pertanyakan Kualitas Gizi: Apakah Sudah Sesuai Arahan Presiden?