BREAKING NEWS
Selasa, 15 September 2026

Ketua Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Aceh: Pendidikan Aceh Tak Kekurangan Sekolah, tapi Butuh Lompatan Mutu

T.Jamaluddin - Senin, 14 September 2026 17:28 WIB
Ketua Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Aceh: Pendidikan Aceh Tak Kekurangan Sekolah, tapi Butuh Lompatan Mutu
Dr. H. Iskandar Muda Hasibuan, Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh di Banda Aceh, Senin, 14 September 2026. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANDA ACEH Pendidikan Aceh dinilai tidak sedang menghadapi persoalan kekurangan sekolah.

Tantangan yang lebih besar saat ini adalah meningkatkan mutu pendidikan agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang siap menghadapi perubahan zaman.

Hal tersebut disampaikan Dr. H. Iskandar Muda Hasibuan, Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh, kepada wartawan di Banda Aceh, Senin, 14 September 2026.

Baca Juga:

"Pendidikan Aceh tidak sedang kekurangan sekolah. Yang kita butuhkan sekarang adalah lompatan mutu."

Iskandar mengatakan pandangan tersebut semakin menguat setelah dirinya melakukan kunjungan kerja ke sejumlah satuan pendidikan Muhammadiyah di Aceh Tamiang dan Langsa pada 13-14 September 2026.

Di lapangan, ia melihat semangat yang kuat dari para guru, pimpinan sekolah yang terus melakukan pembenahan, serta peserta didik yang memiliki potensi besar.

Namun, menurut Iskandar, potensi tersebut membutuhkan dukungan sistem pendidikan yang baik, keberanian melakukan inovasi, ukuran keberhasilan yang jelas, dan kepemimpinan pendidikan yang mampu membuat sekolah bergerak lebih cepat.

"Kita tidak boleh puas hanya karena sekolah masih berjalan."

Menurut dia, pertanyaan yang harus dijawab bukan sekadar apakah sekolah masih beroperasi, melainkan apakah sekolah telah menghasilkan manusia yang siap menghadapi masa depan.

Iskandar mengatakan pembangunan manusia di Aceh secara statistik menunjukkan kemajuan. Indeks Pembangunan Manusia Aceh pada 2025 tercatat mencapai 76,23.

Namun, capaian tersebut dinilai tidak boleh membuat evaluasi terhadap dunia pendidikan berhenti.

Rata-rata lama sekolah penduduk Aceh pada 2024 masih sekitar 9,64 tahun, sedangkan harapan lama sekolah mencapai 14,39 tahun.

Menurut Iskandar, terdapat kesenjangan antara harapan pendidikan dan kondisi yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Kondisi tersebut semakin penting diperhatikan karena tingkat kemiskinan Aceh pada September 2025 masih mencapai 12,22 persen.

Data tersebut, kata Iskandar, menunjukkan bahwa pendidikan harus mampu menciptakan mobilitas sosial.

Sekolah harus menjadi salah satu jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan.

Anak-anak dari keluarga miskin, menurut dia, tidak boleh mendapatkan pendidikan yang sekadar cukup.

Mereka justru harus memperoleh pendidikan berkualitas, relevan dengan kebutuhan zaman, dan mampu membuka peluang kehidupan yang lebih baik.

Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui angka partisipasi sekolah atau kelulusan.

Ukuran lainnya harus mencakup peningkatan literasi dan numerasi, kemampuan berpikir kritis, pembentukan karakter, penguasaan teknologi, keterampilan hidup, hingga kemampuan menciptakan peluang ekonomi.

Iskandar menilai peningkatan kualitas guru merupakan bagian penting dalam reformasi pendidikan.

Guru, kata dia, harus menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Perkembangan kecerdasan buatan, teknologi digital, perubahan dunia kerja, serta derasnya arus informasi membuat guru harus terus memperbarui kompetensinya.

Meski demikian, ia menekankan teknologi tidak dapat menggantikan peran guru.

Teknologi dapat digunakan untuk mencari informasi, mengolah data, membuat materi, hingga mengembangkan metode pembelajaran.

Namun, keteladanan, empati, nilai, disiplin, dan pembentukan karakter tetap membutuhkan peran manusia.

Karena itu, guru tidak perlu takut terhadap perkembangan teknologi.

Guru justru harus mampu menguasai teknologi sembari tetap menjalankan perannya sebagai pendidik.

Iskandar mengatakan anak-anak yang saat ini duduk di bangku sekolah akan memasuki dunia yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Bahkan, sebagian pekerjaan yang akan mereka jalani kemungkinan belum ada saat ini.

Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya diarahkan agar siswa mampu menjawab soal ujian.

Sekolah harus mempersiapkan peserta didik agar mampu menghadapi dan memecahkan persoalan kehidupan.

Literasi dan numerasi tetap menjadi fondasi.

Namun, kemampuan tersebut perlu diperkuat dengan kreativitas, komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, literasi digital, kewirausahaan, kepemimpinan, dan karakter.

"Kita harus mengubah orientasi dari "anak pintar menjawab soal" menjadi "anak mampu menyelesaikan masalah."

Menurut Iskandar, perubahan paradigma tersebut penting karena dunia membutuhkan manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menciptakan nilai dan menyelesaikan persoalan.

Muhammadiyah Didorong Jadi Laboratorium Pembaruan

Dalam konteks pendidikan Aceh, Iskandar melihat Muhammadiyah memiliki posisi strategis.

Organisasi tersebut memiliki sejarah panjang di bidang pendidikan dan jaringan amal usaha yang tersebar di berbagai daerah.

Namun, sejarah panjang tersebut, menurut dia, tidak boleh membuat Muhammadiyah hanya mempertahankan apa yang sudah ada.

"Tradisi besar harus melahirkan keberanian besar untuk berinovasi."

Sekolah Muhammadiyah di Aceh, kata Iskandar, harus menjadi laboratorium pembaruan pendidikan.

Sekolah harus kuat dalam keislaman, unggul dalam ilmu pengetahuan, adaptif terhadap teknologi, memiliki karakter kuat, dan dekat dengan masyarakat.

Pendidikan Islam, menurut dia, tidak harus berhadapan dengan perkembangan teknologi dan pendidikan modern.

"Kita harus membuktikan bahwa keduanya dapat berjalan bersama."

Ia menyebut sejumlah nilai yang perlu berjalan beriringan, yakni iman dan ilmu, karakter dan kompetensi, tradisi dan inovasi, serta lokalitas dan globalitas.

Iskandar mengatakan Aceh memiliki banyak potensi yang dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, perdagangan, pariwisata, ekonomi kreatif, budaya hingga kewirausahaan.

Karena itu, sekolah tidak boleh terpisah dari lingkungan sekitarnya.

Peserta didik perlu belajar dari persoalan nyata di daerah masing-masing.

Mereka juga perlu mengenal potensi daerah, memahami persoalan masyarakat, belajar mengembangkan produk, mengenal pemasaran digital, serta mendapatkan pengalaman kewirausahaan.


"Sekolah harus mengajarkan anak bukan hanya bagaimana mencari pekerjaan, tetapi bagaimana menciptakan pekerjaan."

Menurut Iskandar, jika pendidikan mampu menjalankan peran tersebut, sekolah tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga dapat ikut membangun ekosistem ekonomi masyarakat.

Kunjungan kerja ke Aceh Tamiang dan Langsa, menurut Iskandar, menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan Muhammadiyah tidak dapat menggunakan pendekatan yang seragam.

Setiap daerah memiliki persoalan, potensi, dan karakteristik yang berbeda.

Karena itu, Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Aceh perlu memperkuat pendampingan berdasarkan kebutuhan masing-masing sekolah.

Sekolah yang sudah maju dapat menjadi pusat pembelajaran bagi sekolah lain.

Praktik baik juga perlu didokumentasikan, sementara kepala sekolah dan guru perlu membangun jejaring.

Program yang berhasil, kata dia, juga perlu direplikasi agar manfaatnya dapat dirasakan sekolah lain.

"Kita harus membangun ekosistem pendidikan Muhammadiyah Aceh, bukan bekerja dalam ruang-ruang yang terpisah."

Ia menilai Aceh Tamiang dan Langsa bukan sekadar lokasi kunjungan kerja, tetapi dapat menjadi bagian dari proses membangun model pendidikan Muhammadiyah yang bisa dikembangkan ke seluruh Aceh.

Iskandar mengatakan pembicaraan mengenai Indonesia Emas 2045 harus dikaitkan dengan kondisi peserta didik saat ini.

Sebab, generasi yang akan menjadi pelaku Indonesia Emas 2045 kini sedang duduk di bangku sekolah.

"Artinya, 2045 sebenarnya sedang dibangun sekarang."

Ia berharap pendidikan mampu melahirkan generasi Aceh yang memiliki iman dan integritas, menguasai ilmu pengetahuan, mampu menggunakan teknologi, berpikir kritis, kreatif, mandiri, produktif, serta mampu bersaing tanpa kehilangan identitas keacehannya.

Generasi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang.

Tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menghasilkan inovasi.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Iskandar menilai cara lama tidak seluruhnya dapat dipertahankan.

Sekolah, guru, metode belajar, dan kepemimpinan pendidikan harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Namun, ia menegaskan nilai dasar pendidikan tetap harus dipertahankan, yakni keimanan, akhlak, integritas, kemanusiaan, dan komitmen mencerdaskan kehidupan bangsa.

Iskandar menilai Muhammadiyah Aceh memiliki modal yang cukup untuk mengambil peran lebih besar dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Modal tersebut antara lain sekolah, guru, jaringan persyarikatan, perguruan tinggi, kader, serta pengalaman panjang di bidang pendidikan.

Yang diperlukan saat ini, kata dia, adalah keberanian mengonsolidasikan seluruh kekuatan tersebut menjadi gerakan pendidikan yang terukur.

Target harus ditetapkan, mutu harus diukur, kelemahan harus dievaluasi, praktik yang tidak efektif harus ditinggalkan, dan inovasi baru harus berani dicoba.

"Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan laporan kegiatan. Pendidikan harus menghasilkan perubahan kehidupan."

Karena itu, Iskandar kembali menegaskan pesan yang dibawanya dari kunjungan kerja di Aceh Tamiang dan Langsa.

"Pendidikan Aceh tidak boleh sekadar berjalan. Pendidikan Aceh harus melompat."

Ia mengatakan Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan tersebut.

Muhammadiyah harus menjadi salah satu penggeraknya melalui sekolah yang bermutu, guru yang terus belajar, peserta didik yang memiliki kompetensi dan karakter, serta sistem pendidikan yang mampu menjawab kebutuhan zaman.

Sebab, menurut Iskandar, masa depan Aceh pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya gedung atau program pendidikan yang dilaksanakan, tetapi oleh kualitas manusia yang dilahirkan melalui pendidikan.

"Inilah saatnya Muhammadiyah Aceh bergerak lebih cepat, bekerja lebih terukur, dan berpikir lebih visioner."* (ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Banjir Bandang Terjang 11 Desa di Aceh Tenggara, Kayu dan Batu Masuk ke Rumah Warga
Semangat Anak Indonesia Hebat Menggema di SMPN 1 Medan, Abdul Mu’ti Ajak Siswa Tanamkan 7 Kebiasaan
"Keterbatasan Bukan Alasan Turunkan Kualitas", Kapolda Aceh Dorong Inovasi di Rakernis Perencanaan 2026, Polres Lhokseumawe Borong Penghargaan
Tragedi Maut Longsor di Aceh Tengah: 4 Rumah Hancur Berkeping-keping, Bocah 9 Tahun Tewas dan Belasan Luka-luka
"Nggak Level Layani Tersangka" vs "We Expect More", Beda Pendapat Soal Sikap Diam Gibran atas Gugatan Denny Indrayana
Sambil Olahraga Bisa Urus SIM Satlantas Polresta Banda Aceh Buka Layanan Keliling di CFD, Warga Langsung Antusias
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru