Febrie Adriansyah Ungkap Alasan Tinggalkan Jabatan Jampidsus, Siapa yang Memintanya Mundur?
JAKARTA Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, mengungkapkan bahwa dirinya meningg
HUKUM DAN KRIMINAL
KALIMANTAN - Pulau Kalimantan dikenal sebagai salah satu kawasan dengan hutan hujan tropis yang luas dan keanekaragaman hayati tinggi. Hutan di pulau ini memiliki peran penting dalam menyerap karbon dioksida, menyimpan karbon, menjaga siklus air, serta menjadi habitat berbagai satwa langka. Karena fungsi ekologis tersebut, Kalimantan kerap dijuluki sebagai paru-paru dunia.
Julukan tersebut bukan sekadar menggambarkan luasnya kawasan hijau di Kalimantan. Keberadaan hutan tropis dan lahan gambut di pulau ini turut berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan membantu mengendalikan dampak perubahan iklim.
Lantas, apa saja alasan Kalimantan disebut sebagai paru-paru dunia? Berikut penjelasannya.
1. Memiliki Hutan Hujan Tropis yang Luas
Salah satu alasan utama Kalimantan mendapat julukan paru-paru dunia adalah keberadaan hutan hujan tropis yang menjadi bagian penting dari ekosistem Pulau Borneo.
Pulau Borneo terbagi menjadi wilayah Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Wilayah yang masuk Indonesia dikenal sebagai Kalimantan.
Hutan di kawasan ini memiliki beragam ekosistem, mulai dari hutan dataran rendah, hutan pegunungan, hingga hutan rawa gambut. Berbagai jenis tumbuhan tumbuh membentuk vegetasi yang lebat, mulai dari tumbuhan bawah hingga pepohonan besar yang membentuk kanopi hutan.
Keberadaan hutan tersebut tidak hanya menyediakan tempat hidup bagi satwa liar, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam.
Menurut World Wide Fund for Nature (WWF), Borneo merupakan salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi, termasuk menjadi habitat orangutan dan ribuan spesies tumbuhan.
2. Menyerap Karbon Dioksida dan Menyimpan Karbon
Hutan Kalimantan berperan dalam menyerap karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer melalui proses fotosintesis. Gas tersebut merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
Dalam proses fotosintesis, tumbuhan memanfaatkan energi matahari untuk mengolah karbon dioksida dan air menjadi gula sebagai sumber energi. Proses ini juga menghasilkan oksigen yang dilepaskan ke udara.
Sebagian karbon yang diserap kemudian tersimpan dalam batang, cabang, daun, akar, serta tanah. Karena itu, hutan yang terjaga dapat menjadi tempat penyimpanan karbon dalam jangka panjang.
Sebaliknya, penebangan dan kebakaran hutan dapat melepaskan karbon yang tersimpan ke atmosfer sekaligus mengurangi kemampuan ekosistem menyerap karbon pada masa mendatang.
Oleh karena itu, menjaga tutupan hutan Kalimantan menjadi salah satu langkah penting dalam melindungi keseimbangan iklim.
3. Memiliki Lahan Gambut yang Kaya Karbon
Selain hutan hujan tropis, Kalimantan memiliki ekosistem lahan gambut yang menyimpan karbon dalam jumlah besar.
Lahan gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang mengalami penguraian secara lambat dalam kondisi basah dan minim oksigen. Proses yang berlangsung dalam waktu panjang tersebut membentuk lapisan bahan organik yang dapat menyimpan karbon selama ratusan hingga ribuan tahun.
Namun, ekosistem gambut rentan mengalami kerusakan ketika dikeringkan atau dialihfungsikan untuk berbagai kegiatan manusia.
Lahan gambut yang mengering lebih mudah terbakar. Kebakaran di kawasan ini juga dapat menjalar di bawah permukaan tanah sehingga sulit dipadamkan dan menghasilkan asap dalam jumlah besar.
Kerusakan gambut tidak hanya mengancam penyimpanan karbon, tetapi juga dapat memperburuk kualitas udara dan merusak habitat satwa. Karena itu, pengelolaan air serta pencegahan kebakaran menjadi bagian penting dari upaya menjaga kelestarian gambut di Kalimantan.
4. Menjadi Habitat Berbagai Satwa Langka
Kalimantan juga dikenal sebagai habitat beragam flora dan fauna, termasuk satwa yang menghadapi ancaman akibat kehilangan tempat hidup.
Salah satu satwa ikonik di pulau ini adalah orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Primata tersebut hidup di hutan tropis dan membantu penyebaran biji melalui aktivitas makannya. Peran ini mendukung regenerasi tumbuhan dan keberlangsungan ekosistem hutan.
Selain orangutan, Kalimantan menjadi habitat bekantan, beruang madu, burung enggang, serta berbagai jenis tumbuhan endemik.
Keberadaan satwa tersebut sangat bergantung pada kelestarian hutan. Penebangan, pertambangan, kebakaran, dan perluasan perkebunan dapat memecah habitat sehingga satwa kehilangan tempat mencari makan dan berkembang biak.
Dengan demikian, menjaga hutan Kalimantan tidak hanya berarti mempertahankan tutupan pepohonan, tetapi juga melindungi keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya.
5. Membantu Menjaga Siklus Air dan Iklim
Fungsi hutan Kalimantan juga berkaitan dengan siklus air dan kondisi iklim. Pepohonan melepaskan uap air melalui proses evapotranspirasi, yaitu gabungan penguapan air dari permukaan tanah dan pelepasan uap air dari tumbuhan.
Uap air tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan awan dan hujan. Selain itu, akar tumbuhan membantu air meresap ke dalam tanah, sementara tutupan vegetasi dapat mengurangi limpasan air di permukaan dan risiko erosi.
Hutan yang terjaga membantu mempertahankan keseimbangan lingkungan dan mendukung ketersediaan air bagi ekosistem serta masyarakat sekitar.
Sebaliknya, hilangnya tutupan hutan dapat mengubah aliran air, meningkatkan risiko erosi, dan memperbesar kemungkinan banjir maupun kekeringan di wilayah tertentu.
Menjaga Kalimantan Berarti Melindungi Lingkungan
Luasnya hutan hujan tropis, kemampuan menyimpan karbon, keberadaan lahan gambut, keanekaragaman hayati, serta perannya dalam siklus air menjadikan Kalimantan kawasan yang penting bagi keseimbangan lingkungan.
Namun, fungsi tersebut bergantung pada kondisi ekosistem yang tetap terjaga. Kebakaran hutan dan lahan, deforestasi, serta kerusakan habitat dapat mengurangi manfaat ekologis yang selama ini diberikan kawasan tersebut.
Karena itu, pelestarian hutan dan lahan gambut, pencegahan kebakaran, serta perlindungan habitat satwa menjadi langkah penting agar fungsi ekologis Kalimantan tetap terpelihara untuk generasi mendatang.* (oz/dh)
JAKARTA Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, mengungkapkan bahwa dirinya meningg
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BNI 2026 menjadi salah satu pilihan pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMK
EKONOMI
BANDUNG Presiden ke6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengenang pengalamannya menghadapi demonstrasi selama menjabat
POLITIK
DELI SERDANG Satuan Reserse Narkoba Polresta Deli Serdang menggerebek tiga lokasi yang diduga menjadi tempat transaksi dan penyalahgunaa
HUKUM DAN KRIMINAL
MEDAN Kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Utara (Sumut) meningkat empat kali lipat sepanjang 20
NASIONAL
MEDAN Kisruh pengelolaan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) AlHikmah Medan kembali mencuat. Persoalan tersebut mencakup status kepemimpi
NASIONAL
PEKANBARU Yayasan Jaga Riau Indonesia mendesak Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Riau dan Gubernur Riau segera mengambil langkah konkre
NASIONAL
MEDAN Kota Medan mengalami penurunan permukaan tanah sekitar 33 milimeter atau 3,3 sentimeter per tahun. Angka tersebut terungkap dalam
NASIONAL
JAKARTA Suroso Isnandar ditunjuk sebagai Direktur Utama PT PLN (Persero), menggantikan Darmawan Prasodjo. Pergantian pimpinan perusahaan
NASIONAL
JAKARTA Terdakwa Don Ritto alias Idon menilai jaksa penuntut umum (JPU) mencampuradukkan honorarium advokat, kegiatan bisnis, dan hubung
HUKUM DAN KRIMINAL