JAKARTA – Para ilmuwan kembali memperingatkan potensi bencana alam besar yang mengintai kawasan barat Amerika Utara.
Zona Subduksi Cascadia, yang membentang dari Vancouver hingga California Utara, diyakini dapat memicu gempa bumi megathrust berkekuatan lebih dari M9 (Magnitudo 9), dan bahkan memicu reaksi berantai terhadap patahan aktif San Andreas di California Selatan.
Peringatan ini datang dari hasil riset seismik terbaru yang dilakukan oleh ahli geologi kelautan dan peneliti kebencanaan, termasuk Chris Goldfinger, yang menyebut bahwa dampak dari gempa semacam ini bisa melampaui imajinasi.
"Agak sulit untuk melebih-lebihkan seperti apa gempa bumi M9 di Pasifik Barat Laut," kata Goldfinger.
"Kemungkinan gempaSan Andreas akan menyusul... itu sudah seperti adegan film."
Zona subduksi Cascadia terbentuk dari pertemuan antara lempeng mikro Juan de Fuca dan lempeng Amerika Utara, di mana lempeng kecil tersebut terus menunjam ke bawah benua.
Meskipun ukurannya relatif kecil, sekitar 250.000 km², dibandingkan dengan Lempeng Pasifik yang mencapai lebih dari 100 juta km², Juan de Fuca adalah sisa dari lempeng purba Farallon, yang dulu menutupi sebagian besar Samudra Panthalassa pada masa super-benua Pangea.
Proses subduksi ini tidak berjalan mulus. Gesekan tinggi menyebabkan kedua lempeng terkunci di titik pertemuan, menyimpan energi dalam jumlah luar biasa hingga suatu saat dilepaskan dalam bentuk gempamegathrust, jenis gempa paling dahsyat di muka Bumi.
Untuk perbandingan, gempa bumi di Chile (1960) mencapai M9,5 dan di Alaska (1964) sebesar M9,2, dua di antara gempa terkuat yang pernah tercatat.
Meskipun potensi reaksi berantai antara zona Cascadia dan patahan San Andreas sudah menjadi bahan spekulasi lama, para peneliti kini menemukan kemungkinan hubungan lebih nyata.
Namun, bukan dalam bentuk hubungan langsung, melainkan karena perubahan tekanan tektonik regional akibat gempa besar di Cascadia, yang bisa menambah ketegangan pada zona patahan lainnya.
Goldfinger menyebut bahwa meskipun timnya awalnya hanya ingin memetakan catatan sedimen laut dan sejarah seismik Pasifik Barat Laut, hasilnya justru mengarah pada pemahaman lebih mendalam mengenai interkoneksi antar-patahan.
"Kami menemukan bukti bahwa satu gempa besar bisa menambah tekanan pada patahan lain, memicu respons seismik beruntun," ungkapnya.
Ancaman dari zona subduksi Cascadia bukan lagi soal kemungkinan, melainkan kepastian waktu.
Dengan panjang sekitar 1.100 kilometer dan kapasitas untuk menghasilkan guncangan yang melumpuhkan infrastruktur sepanjang pesisir barat, para ahli meminta perhatian serius dari otoritas dan masyarakat.
"Gempa ini tidak hanya akan merusak, tetapi juga bisa memicu tsunami besar dan menghancurkan wilayah padat penduduk," tambah Goldfinger.
Sampai saat ini, para ilmuwan terus memantau aktivitas tektonik di zona tersebut, termasuk melalui pengeboran laut dan pemodelan komputer untuk memprediksi kapan dan bagaimana gempa bumi megathrust berikutnya akan terjadi.*
(sn/a008)
Editor
: Adam
Waspada! Gempa Megathrust Cascadia Bisa Picu Tsunami dan Lenyapkan Kota-Kota Besar dalam Sekejap