JAKARTA — Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera (Tropical Rainforest Heritage of Sumatra/TRHS) kembali mendapat sorotan internasional.
Kawasan yang sejak 2004 ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO itu kini berstatus "dalam bahaya" akibat maraknya perambahan, penebangan liar, dan pembangunan infrastruktur yang menggerus tutupan hutan sejak 2011 hingga kini.
UNESCO mencatat TRHS terdiri dari tiga taman nasional besar—Gunung Leuser, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan Selatan—yang mencakup lebih dari 2,59 juta hektare.
Kawasan yang membentang dari Aceh hingga Lampung ini menjadi rumah bagi 10.000 spesies tumbuhan, 17 genus endemik, 201 spesies mamalia, serta sekitar 580 spesies burung.
Di dalamnya hidup satwa kunci Sumatera seperti harimau, gajah, badak, dan orangutan.
Di luar kekayaan hayati tersebut, bentang alamnya pun dikenal megah.
Gunung Kerinci—gunung berapi tertinggi di Indonesia—hingga Danau Gunung Tujuh menjadi ikon keindahan ekologis yang diakui dunia.
Sejumlah pusat riset internasional juga berada di kawasan ini, menjadikannya laboratorium hidup yang penting bagi ilmu pengetahuan.
Meski menyandang status warisan dunia, tekanan terhadap hutan tak kunjung surut.
Pembukaan jalan baru memicu perambahan, penebangan liar, dan perburuan. Di beberapa titik, aktivitas ilegal bahkan mengarah pada kerusakan masif.
Data Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menunjukkan 7.000 hektare kawasan rusak oleh ekspansi lahan perkebunan, dengan lebih dari 4.500 penduduk tinggal di dalam zona konservasi.
Di Taman Nasional Tesso Nilo, kondisi lebih mencemaskan: dari luas awal 81.793 hektare, kini hanya 12.561 hektare yang tersisa sebagai hutan alam.