BREAKING NEWS
Kamis, 22 Januari 2026

Penebangan Hutan Jadi Biang Banjir Bandang Batangtoru, Gus Irawan Kesal: Ada Apa? Kenapa Kembali Diberi Izin?

Abyadi Siregar - Sabtu, 29 November 2025 19:53 WIB
Penebangan Hutan Jadi Biang Banjir Bandang Batangtoru, Gus Irawan Kesal: Ada Apa? Kenapa Kembali Diberi Izin?
Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan saat meninjau lokasi terdampak di Garoga, Sabtu, 29 November 2025. (foto: Gus Irawan Pasaribu/fb)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

TAPANULI SELATAN — Dugaan penyebab banjir bandang yang meluluhlantakkan tiga desa di Batangtoru, Tapanuli Selatan, mulai mengerucut.

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan, secara terbuka menyebut penebangan hutan di hulu Sungai Batangtoru sebagai salah satu pemicu utama bencana, selain cuaca ekstrem akibat badai siklon Senyar.

Pernyataan ini ia sampaikan saat meninjau lokasi terdampak di Garoga, Sabtu, 29 November 2025.

Baca Juga:

"Penyebabnya karena ada penebangan hutan di hulu sungai," ujar Gus Irawan.

Menurut dia, kayu-kayu berukuran besar yang tampak berserakan pascabanjir bukan berasal dari pohon tumbang secara alami, melainkan hasil tebangan yang dibiarkan menumpuk.

Di tiga desa terdampak, Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, jejak kerusakan ekologis terlihat jelas.

Ratusan batang kayu besar ditemukan tersangkut di pemukiman dan badan sungai. Beberapa bahkan menjadi penyebab jatuhnya korban jiwa.

Seorang warga Huta Godang, Silalahi, menguatkan dugaan itu.

Ia menyebut kayu-kayu yang terbawa arus memiliki ciri kayu tebangan: kulitnya hilang, warna memutih, dan sudah tidak layak pakai.

"Itu kayu bekas ditebang. Yang bagus sudah diangkut pakai mobil, yang jelek ditinggalkan. Saat banjir datang, ya semuanya terseret ke bawah," kata Silalahi kepada wartawan.

Gus Irawan mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Tapsel sebenarnya telah menyurati Kementerian Kehutanan sejak September 2025, menyampaikan keberatan atas aktivitas pembukaan hutan oleh sebuah perusahaan di wilayah Tapanuli Tengah.

Hasilnya, kegiatan sempat dihentikan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari.

Namun, perusahaan itu kembali beroperasi pada awal November.

"Ada apa sebenarnya? Mengapa mereka kembali diberi izin? Berapa PNBP yang diterima negara dari aktivitas itu?" kata Gus Irawan dengan nada kesal.

Ia menilai keputusan memberi izin operasi kembali perlu dipertanyakan, terutama karena bencana banjir bandang yang terjadi pada 25 November bertepatan dengan dimulainya kembali aktivitas penebangan.

Di lokasi lain, warga Huta Godang juga menyebut nama sebuah perusahaan yang baru membuka lahan di kawasan Aek Bangir, dekat wilayah perkebunan sawit di Sibabangun, Tapteng.

"Mereka yang menebangi pohon di hulu sungai. Harusnya mereka bertanggung jawab," ujar Silalahi.

Banjir bandang ini disebut sebagai salah satu yang terparah dalam beberapa dekade terakhir di Batangtoru.

Banyak warga mengungsi, sejumlah rumah hanyut, dan beberapa keluarga masih kehilangan anggota keluarganya.

Bupati Tapsel meminta pemerintah pusat segera turun tangan, melakukan investigasi menyeluruh, dan memberi sanksi tegas kepada pelaku perusakan hutan.

"Warga Batangtoru banyak yang menjadi korban. Rumah hancur, keluarga hilang. Bencana ini tidak bisa dianggap musibah biasa. Ada faktor manusia di dalamnya," tegasnya.*


(tm/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Viral! Sembako Habis, Warga Tapteng Terpaksa Menjarah Minimarket
PT Sucfindo Kebun Matapao Salurkan 50 Paket Sembako untuk Warga Terdampak Banjir di Pasar Baru
Kisah Pilu di Aceh: Dosen Muda Menangis di Depan Kapolda Karena Kehilangan Kontak Orangtua di Tengah Darurat Banjir
Kapolri Turun Tangan, Kirim 3,5 Ton Bantuan Darurat untuk Korban Banjir dan Longsor di Tapanuli Utara
2,5 Ton Bantuan Logistik dan RON Mabes Polri Diterima Polda Aceh, Siap Didistribusikan
Walhi Ungkap Banjir Aceh Bukan Musibah Alam: Akibat Deforestasi, Ekspansi Kebun Sawit dan Tambang Ilegal
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru