BREAKING NEWS
Minggu, 03 Mei 2026

Eks Kepala BMKG Ungkap Sebab Banjir Sumatra: Kontribusi Terbesar dari Ulah Manusia

Adelia Syafitri - Minggu, 07 Desember 2025 08:35 WIB
Eks Kepala BMKG Ungkap Sebab Banjir Sumatra: Kontribusi Terbesar dari Ulah Manusia
Banjir besar yang menghanyutkan rumah warga di Aceh Tamiang. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Eks Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menyebut banjir dan tanah longsor yang terjadi di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh merupakan hasil kombinasi perubahan iklim akibat aktivitas manusia (antropogenik) dan dinamika alamiah sistem Bumi.

Menurut Dwikorita, kombinasi ini membuat bencana hidrometeorologi semakin sering terjadi, lebih ekstrem, berdurasi panjang, dan sulit diprediksi.

Rekonstruksi suhu Bumi selama 400 juta tahun terakhir menunjukkan bahwa fluktuasi iklim memang pernah terjadi secara alami akibat aktivitas vulkanik, variasi orbit Bumi, hingga perubahan sirkulasi samudra.

Baca Juga:

Namun, laju pemanasan dalam 150 tahun terakhir jauh lebih cepat dibandingkan perubahan alamiah manapun dalam kurun waktu geologis.

"Laju kenaikan suhu saat ini tidak dapat dijelaskan semata oleh mekanisme alamiah. Kontribusi terbesar datang dari aktivitas manusia, seperti emisi gas rumah kaca, deforestasi, dan industrialisasi," ujar Dwikorita dalam keterangan tertulis, Minggu (7/12).

Pemanasan global memperbesar kapasitas udara menyimpan uap air. Ketika dilepaskan dalam bentuk hujan, energi yang terkandung jauh lebih besar dan eksplosif, sehingga faktor antropogenik bertemu faktor alamiah.

Indonesia, yang berada di "cincin gunung api" dan memiliki topografi curam serta struktur batuan labil, memang rawan longsor dan banjir bandang.

Namun kerusakan tutupan lahan dan pemanasan global meningkatkan risiko dan dampaknya secara masif.

Dwikorita menekankan fenomena ini sebagai "coupled hazards", di mana faktor alamiah dan antropogenik saling menguatkan, membuat bencana lebih destruktif.

"Banjir Sumatra bukan sekadar insiden lokal, melainkan sinyal bahwa sistem lingkungan Indonesia berada dalam tekanan yang semakin besar dan kritis," ujarnya.

Untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi yang tidak dapat dihindari, Dwikorita menyarankan pembangunan sistem mitigasi dan adaptasi berbasis ekologi, yang didukung kajian akademis berbasis sains dan teknologi.

Menurutnya, mitigasi harus fokus pada perlindungan dan pemulihan kerusakan lingkungan agar bencana tidak berubah menjadi tragedi besar.*


(cn/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Polda Aceh Kirim Bantuan Kemanusiaan via Helikopter untuk Warga Terdampak Banjir di Simpang Jernih
PW Muhammadiyah Aceh Kirim Tim Relawan MDMC Bantu Korban Banjir Gayo Lues
Bahlil Usul Koalisi Permanen, Ganjar Pranowo Ingatkan: Mari Urus Bencana, Bantu Rakyat
Gubernur Aceh Mualem: Warga Bukan Mati Karena Banjir, Tapi Karena Kelaparan
Prakiraan Cuaca Bali Hari Ini, Minggu 7 Desember 2025: Sebagian Besar Wilayah Berawan
Prakiraan Cuaca DIY Hari Ini, Minggu 7 Desember 2025: Sebagian Besar Wilayah Berawan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru