Infrastruktur yang rusak parah, termasuk jembatan penghubung dan terputusnya aliran listrik, membuat akses keluar masuk desa menjadi sangat terbatas.
Kepala Desa Sibio-bio, Damianus Zendrato, mengungkapkan bahwa satu-satunya jembatan penghubung desa tersebut dengan Desa Muara Sibuntuon telah terputus akibat bencana tersebut.
Akibatnya, warga harus menyeberangi aliran Sungai Muara Sibuntuon untuk keluar dari desa, yang hanya bisa dilakukan saat kondisi air sungai memungkinkan.
"Jembatan penghubung sudah tidak ada lagi. Kalau air sungai sedang tinggi, kami tidak bisa keluar dari desa sama sekali," jelas Damianus, Sabtu (21/2).
Kondisi ini telah berlangsung selama hampir tiga bulan, dan semakin memperburuk kehidupan sehari-hari warga yang terisolir.
Selain masalah akses jalan, warga Desa Sibio-bio juga masih menghadapi kesulitan besar terkait pasokan listrik.
Hingga saat ini, aliran listrik belum pulih sepenuhnya, sehingga warga terpaksa bergantung pada penerangan seadanya di malam hari.
Meski beberapa genset telah dibagikan, jumlahnya masih sangat terbatas, sementara total rumah yang terhuni di desa tersebut mencapai 200 rumah dengan sekitar 1.000 jiwa penghuni.
"Bantuan genset memang ada, tapi sangat terbatas jumlahnya. Banyak rumah yang masih gelap saat malam," kata Damianus.
Bencana banjir bandang yang terjadi beberapa bulan lalu juga telah menewaskan sembilan warga, dua di antaranya sudah ditemukan, sementara tujuh lainnya masih dalam pencarian.
Kendati begitu, warga tetap bertahan dan berusaha memperbaiki kehidupan mereka, meskipun dalam kondisi yang sangat sulit.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Gubernur Sumut telah meminta bantuan kepada berbagai pihak untuk membantu warga yang terdampak.
Gubernur juga menyebutkan bahwa warga Desa Sibio-bio mulai membangun hunian sementara secara mandiri untuk mengatasi kesulitan tempat tinggal pasca bencana.
Pemerintah Kabupaten Tapteng berjanji akan segera mengupayakan perbaikan infrastruktur, termasuk pembangunan kembali jembatan penghubung dan pemulihan aliran listrik ke desa tersebut, agar warga tidak terus terisolir.*