Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
MEDAN — Ambruknya 12 tower transmisi listrik di Sumatera Utara kembali memicu pemadaman bergilir di Medan dan sejumlah wilayah sekitarnya.
Insiden ini terjadi hanya beberapa minggu setelah blackout besar melanda Sumatera, sehingga memunculkan kekhawatiran serius terhadap ketahanan sistem kelistrikan nasional.
Gangguan pada jaringan transmisi tersebut berdampak pada dua jalur utama sistem tenaga listrik di Sumut.
Baca Juga:
Pada SUTET 275 kV Galang–Simangkuk, tiga tower dilaporkan roboh serta dua lainnya mengalami deformasi.
Sementara pada SUTT 150 kV Tebing Tinggi–Sei Rotan, enam tower ambruk dan satu lainnya mengalami kerusakan struktur.
Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai insiden tersebut tidak dapat serta-merta disederhanakan sebagai dampak cuaca buruk semata.
Menurut dia, tower transmisi seharusnya dirancang untuk tahan terhadap kondisi ekstrem seperti hujan deras, angin kencang, dan sambaran petir.
"Penyebab utama kejadian ini tidak boleh langsung disimpulkan sebagai cuaca buruk semata. Yang harus dijawab adalah mengapa infrastruktur yang relatif baru dapat mengalami kerusakan beruntun dalam kondisi yang seharusnya sudah diperhitungkan sejak desain," kata Fabby dalam keterangan tertulis, Senin, 8 Juni 2026.
Fabby menilai peristiwa ini mengindikasikan adanya titik lemah dalam perencanaan dan standar ketahanan infrastruktur ketenagalistrikan nasional.
Apalagi salah satu jalur yang terdampak, SUTET 275 kV Galang–Simangkuk, merupakan bagian dari proyek strategis Tol Listrik Sumatera yang baru beroperasi sejak 2019.
Menurut dia, kegagalan struktural pada infrastruktur yang tergolong baru menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap standar desain, kualitas material, hingga pelaksanaan konstruksi.
"Investigasi tidak boleh berhenti pada faktor pemicu di lapangan, tetapi harus menelusuri mengapa sistem gagal merespons kondisi yang sebenarnya sudah dapat diprediksi," ujarnya.
IESR mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan untuk segera melakukan audit teknis menyeluruh terhadap jaringan transmisi yang terdampak.
Lembaga itu juga menilai perlu adanya investigasi independen guna memastikan penyebab utama kegagalan sistem secara transparan.
Investigasi tersebut, kata Fabby, penting untuk menguji kemungkinan adanya kesalahan desain, penurunan kualitas material, maupun kelemahan dalam eksekusi proyek.
Ia juga menyinggung pengalaman negara lain, seperti Spanyol, yang melakukan evaluasi menyeluruh setelah mengalami gangguan listrik berskala besar.
Menurutnya, pendekatan serupa diperlukan agar Indonesia tidak mengulang kegagalan sistemik yang sama.
"Yang perlu dicari bukan hanya pemicu gangguan, tetapi mengapa sistem tidak mampu mengisolasi dan mencegah dampaknya meluas," kata dia.
Pemadaman bergilir di Sumatera Utara kini menjadi sorotan publik karena terjadi berulang dalam waktu berdekatan, sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai ketahanan infrastruktur listrik nasional di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.*
(km/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.