Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Ia kemudian dibawa Pemerintah Kota Medan ke rumah sakit setelah kepalanya terluka akibat tertimpa material bangunan.
Sementara itu, Nurbaiti memilih berteduh di rumah tetangga.
"Nenek masuk ke rumah ibu itu (tetangga). Di sana nenek berteduh. Nenek tidak ada ingat apa-apa, cuma memikirkan apakah bisa selamat gitu. Karena sudah tidak tahan lagi terombang-ambing kena angin," lanjutnya.
Nurbaiti saat itu belum mengetahui kondisi rumahnya.
Listrik yang padam membuat suasana sekitar gelap sehingga ia tidak dapat melihat kerusakan yang terjadi.
Kondisi rumahnya baru diketahui Nurbaiti pada keesokan pagi.
"Kata tetangga, sudah tidak apa-apa, pelan-pelan nenek lihat rumah nenek. Mati lampu, tidak nampak lagi, baru tadi pagi Nenek lihat sudah habis dan hancur rata," ungkap Nurbaiti.
Air mata Nurbaiti tak terbendung ketika menceritakan musibah yang menimpanya.
Namun, di tengah kehilangan tempat tinggal, ia mengaku bersyukur masih diberi keselamatan.
"Memang kuasa dari Allah, kalau masih ada nyawa dikasih-Nya, jadi nenek berteduh. Nenek minta keselamatan saja lah. Enggak ada memikirkan harta. Memang harta nenek juga tidak ada, makanya cuma memikirkan keselamatan saja," jelasnya.
Nurbaiti dan suaminya telah tinggal di Kelurahan Sukamaju sejak 1993.
Selama lebih dari tiga dekade tinggal di kawasan tersebut, baru kali ini ia merasakan angin puting beliung dengan kekuatan sebesar itu.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.