Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
"Ini rumah kami sendiri. Dulu pernah juga kejadian yang sama. Tapi hanya angin kencang. Sengnya yang terangkat cuma sedikit saja. Tidak seperti sekarang ini," akunya.
Dahulu, Nurbaiti bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional. Suaminya bekerja sebagai penarik becak.
Namun, setelah terserang penyakit rematik, Nurbaiti tidak lagi dapat bekerja.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, keduanya mengandalkan kiriman dari anak yang merantau.
Kini, setelah rumah mereka hancur, Nurbaiti masih harus membersihkan sisa material bersama saudaranya yang juga sudah lanjut usia.
Meski rumahnya nyaris rata dengan tanah, Nurbaiti tidak ingin meninggalkan kawasan yang telah menjadi tempat tinggalnya selama puluhan tahun.
Ia berharap masih dapat bertahan dan kembali tinggal di lokasi tersebut.
"Harapan nenek, ya, masih ada nyawa dikasih Allah, nenek tetap mau tinggal lagi di sinilah," ujarnya.
Nurbaiti juga berharap pemerintah memberikan bantuan agar ia dan suaminya memiliki tempat untuk berteduh.
"Saya berharap pemerintah bermurah hati membantu kami dan supaya kami bisa punya tempat berteduh. Saya tidak mau ke mana-mana lagi, kalau bisa tetap di sini," harapnya.
Kisah Nurbaiti menjadi gambaran warga yang terdampak langsung bencana angin puting beliung di Medan Johor.
Di tengah rumah yang hancur dan harta benda yang tidak lagi tersisa, keselamatan menjadi hal utama yang ingin ia pertahankan.* (km/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.