BREAKING NEWS
Rabu, 19 Agustus 2026

Pasar Tumpah Kramat Jati Tak Kunjung Tuntas, Cepy Dorong Pramono Anung Cari Solusi hingga ke Akar Masalah

gusWedha - Rabu, 19 Agustus 2026 22:46 WIB
Pasar Tumpah Kramat Jati Tak Kunjung Tuntas, Cepy Dorong Pramono Anung Cari Solusi hingga ke Akar Masalah
Ketua Umum Komunitas Banteng Asli Nusantara (Kombatan), Budi Mulyawan atau Cepy. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Ketua Umum Komunitas Banteng Asli Nusantara (Kombatan), Budi Mulyawan atau Cepy, mendorong Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung segera menuntaskan persoalan Pasar Tumpah Kramat Jati, Jakarta Timur.

Menurut dia, persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun itu tidak cukup diselesaikan hanya melalui penertiban pedagang.

Budi menilai keberadaan Pasar Tumpah Kramat Jati berkaitan dengan sejumlah persoalan sekaligus, mulai dari distribusi pangan, mata pencaharian pedagang, kemacetan, kebersihan, hingga tata kelola pasar.

Baca Juga:

Menurut dia, aktivitas pedagang di luar kawasan resmi Pasar Induk Kramat Jati tidak muncul tanpa alasan.

Besarnya aktivitas perdagangan dan keterbatasan ruang di pasar resmi membuat kegiatan perdagangan berkembang ke area di sekitarnya.

"Pasar tumpah Kramat Jati ini jangan hanya dilihat sebagai pedagang yang mengganggu jalan. Di sana ada rantai ekonomi yang panjang, mulai dari bandar, pengecer, pedagang kecil, kuli panggul, warung makan, sampai jasa angkutan," kata Cepy.

Ia mengatakan Pasar Induk Kramat Jati memiliki peran penting dalam distribusi sayur dan buah untuk Jakarta dan wilayah sekitarnya.

Karena itu, kebijakan pemerintah, menurut dia, harus tetap menjaga fungsi distribusi pangan sekaligus mengurangi dampak buruk bagi masyarakat.

"Kalau ditutup atau digusur begitu saja, persoalannya hanya pindah. Tetapi kalau dibiarkan tanpa aturan, warga yang menjadi korban karena macet, sampah, bau dan trotoar yang tidak bisa digunakan," ujarnya.

Cepy menyebut setidaknya ada tiga persoalan utama yang perlu dibenahi, yakni keterbatasan ruang, pengelolaan sampah, dan lemahnya penataan aktivitas perdagangan.

"Ini bukan sekadar persoalan pedagang. Penyakitnya adalah tempat yang tidak cukup, sistem logistik yang masih semrawut dan tata kelola yang belum terintegrasi," katanya.

Masalah sampah juga menjadi perhatian. Sisa sayur dan buah yang menumpuk dinilai dapat mengganggu kebersihan dan kenyamanan lingkungan.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kadin Sumut Sambut Positif BRT Listrik Mebidang, Dinilai Bisa Tekan Biaya Transportasi Pekerja
Rico Waas Apresiasi Pameran Foto “Prahara Pulau Emas”: Foto Jurnalistik Bisa Ciptakan Harapan
Komisi V DPR Sebut Indonesia Darurat Angkutan Laut: 601 Kecelakaan Kapal Terjadi hingga Agustus 2026, 203 Orang Masih Hilang
Wawalkot Tanjungbalai Lantik 26 Pejabat, Minta Birokrasi Bergerak Cepat Layani Masyarakat: Jangan Tunggu Perintah Baru Bertindak!
Ponpes di Medan Rusak Parah Diterjang Angin Kencang, 15 Santriwati Diungsikan
Pemkab Aceh Tengah Pulihkan 1.496 Hektare Sawah Rusak Pascabencana, Petani Ditargetkan Kembali Menanam September
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru