Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
MEDAN – Seorang perempuan asal Medan Marelan, Kota Medan, Sumatera Utara, Wulamsari (27), diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) setelah menerima tawaran pekerjaan dengan gaji tinggi di Malaysia.
Namun, menurut keterangan keluarganya, Wulamsari justru dibawa ke Madagaskar, negara di Afrika Timur, tanpa mengetahui tujuan tersebut sebelumnya.
Di sana, ia disebut dipaksa bekerja sebagai operator judi online.
Baca Juga:
Keluarga kini meminta bantuan pemerintah, terutama Kementerian Luar Negeri dan perwakilan Indonesia di luar negeri, untuk memastikan keselamatan Wulamsari serta membantu proses evakuasi dan pemulangannya ke Indonesia.
Kakak kandung Wulamsari, Julianto (40), mengatakan persoalan tersebut bermula ketika adiknya berkenalan dengan seorang pria melalui media sosial Facebook.
Pria tersebut kemudian menawarkan pekerjaan di Malaysia dengan iming-iming penghasilan tinggi.
Tertarik dengan tawaran itu, Wulamsari meninggalkan rumahnya di Jalan Young Panah Hijau, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, pada April 2026.
Julianto mengatakan, Wulamsari awalnya berangkat dari Bandara Kualanamu dengan tujuan Malaysia.
Namun, setelah tiba di Malaysia, perjalanan adiknya disebut berlanjut ke Madagaskar.
"Awalnya pergi ke Malaysia dari Bandara Kualanamu diiming-imingi gaji besar. Tapi dari Malaysia langsung transit ke Madagaskar tanpa sepengetahuan dia. Habis itu hilang kontak," ujar Julianto, Selasa (29/9/2026).
Setelah keberangkatan tersebut, keluarga kehilangan komunikasi dengan Wulamsari selama beberapa bulan.
Menurut Julianto, komunikasi dengan adiknya kembali terjalin sekitar dua pekan lalu.
Dalam komunikasi tersebut, Wulamsari disebut menangis dan meminta pertolongan kepada keluarganya.
Julianto mengatakan, adiknya mengaku dijebak untuk bekerja sebagai operator judi online di Madagaskar.
Kepada keluarga, Wulamsari juga disebut menceritakan adanya kekerasan terhadap pekerja di lokasi tersebut.
"Dua minggu lalu baru komunikasi lagi terakhir dia minta tolong, menangis. Bahwasanya dia di sana dianiaya, perempuan dilecehkan dan laki-laki dianiaya," tutur Julianto.
Keterangan mengenai dugaan penganiayaan dan pelecehan tersebut berasal dari penuturan keluarga berdasarkan komunikasi dengan Wulamsari.
Hingga kini, belum terdapat keterangan dalam informasi yang disampaikan keluarga mengenai hasil verifikasi pemerintah atau aparat penegak hukum terkait kondisi Wulamsari di Madagaskar.
Keluarga Wulamsari mengaku telah berupaya mencari bantuan untuk memulangkan perempuan berusia 27 tahun tersebut ke Indonesia.
Keluarga telah melaporkan kondisi itu kepada pihak kelurahan setempat.
Mereka juga meminta pendampingan dari anggota DPD RI asal Aceh H. Sudirman atau Haji Uma serta anggota DPRK Aceh Tamiang Jamil Hasan.
Julianto berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah untuk memastikan keberadaan dan keselamatan adiknya.
Keluarga secara khusus meminta bantuan Kementerian Luar Negeri dan perwakilan Indonesia di luar negeri untuk memfasilitasi proses evakuasi Wulamsari dari Madagaskar.
"Harapan saya kepada pemerintah, tolonglah dibantu dan pulangkan dengan secepatnya. Kepada pihak Menteri Luar Negeri atau KBRI, tolonglah dipermudah dibantu supaya adik saya cepat pulang," kata Julianto.
Wulamsari merupakan anak kedelapan dari 10 bersaudara.
Hingga Selasa (29/9/2026), keluarga masih menunggu bantuan pemerintah agar Wulamsari dapat segera dipulangkan ke Indonesia.
Kasus tersebut bermula dari tawaran pekerjaan melalui media sosial yang menurut keluarga menjanjikan penempatan di Malaysia.
Namun, berdasarkan cerita yang diterima keluarga, Wulamsari justru dibawa ke Madagaskar dan diduga menjalankan pekerjaan yang berbeda dari tawaran awal.
Keluarga berharap pemerintah dapat memastikan keberadaan, kondisi, dan keselamatan Wulamsari sebelum memfasilitasi kepulangannya ke Medan.* (km/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.