BREAKING NEWS
Rabu, 09 September 2026

Indonesia Klaim Swasembada Pangan, Tapi 3 Komoditas Strategis Ini Masih Impor

Johan - Selasa, 08 September 2026 14:10 WIB
Indonesia Klaim Swasembada Pangan, Tapi 3 Komoditas Strategis Ini Masih Impor
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk sejumlah komoditas pangan strategis.

Kedelai, daging sapi atau kerbau, serta bawang putih menjadi tiga komoditas yang produksi dalam negerinya belum mampu memenuhi kebutuhan nasional.


Berdasarkan data Neraca Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), produksi kedelai nasional pada 2026 diperkirakan hanya sekitar 206.400 ton.

Baca Juga:

Jumlah tersebut jauh di bawah kebutuhan nasional yang mencapai sekitar 2,74 juta ton per tahun.

Kesenjangan serupa terjadi pada komoditas daging sapi atau kerbau.

Produksi dalam negeri masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat sehingga sebagian kebutuhan harus dipenuhi melalui impor.

Sementara itu, bawang putih juga masih menjadi komoditas pangan strategis yang belum mencapai swasembada.

Produksi bawang putih nasional hanya sekitar 23.800 ton, sedangkan kebutuhan dalam negeri mencapai sekitar 715.860 ton per tahun.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi mengatakan rendahnya produktivitas dalam negeri menjadi salah satu penyebab Indonesia masih bergantung pada impor.

Untuk kedelai, persoalannya tidak hanya berkaitan dengan produksi yang rendah.

Luas lahan tanam yang terbatas, produktivitas yang belum optimal, serta daya saing usaha tani turut menjadi tantangan.

"Produksi domestik kedelai diproyeksikan hanya 206.000 ton, sedangkan kebutuhan mencapai 2,74 juta ton. Penyebab utamanya antara lain terbatasnya luas tanam, produktivitas yang masih rendah, daya saing usaha tani, serta kebutuhan industri tahu dan tempe yang sangat besar," ungkap dia dalam keterangan tertulisnya, Senin (7/9/2026).

Kedelai menjadi bahan baku utama untuk berbagai produk pangan yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari, terutama tahu dan tempe.

Tingginya kebutuhan industri tersebut membuat kebutuhan kedelai nasional jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksi dalam negeri.

Kondisi berbeda terlihat pada bawang putih.

Produksi komoditas tersebut masih rendah karena tanaman bawang putih membutuhkan kondisi iklim dan wilayah dataran tinggi tertentu.

Keterbatasan wilayah yang sesuai untuk budidaya membuat areal tanam bawang putih di Indonesia belum mampu berkembang secara luas.

Di sisi lain, permintaan masyarakat terhadap bawang putih tetap tinggi.

Pemerintah menargetkan ketergantungan impor bawang putih dapat dihentikan dalam tiga hingga lima tahun mendatang.

Untuk mencapai target tersebut, Kementan menjalankan sejumlah program, antara lain membangun ekosistem pertanian dari sektor hulu hingga hilir secara terintegrasi, mempercepat pembenihan nasional, serta memperluas areal tanam.

Daging sapi atau kerbau juga masih mengalami defisit produksi.

Berdasarkan data yang disampaikan Kementan, produksi domestik diperkirakan mencapai sekitar 610.900 ton, sedangkan kebutuhan nasional sekitar 781.300 ton per tahun.


Dengan demikian, terdapat kekurangan sekitar 170.300 ton yang masih harus dipenuhi melalui impor.

Meski demikian, pemerintah menilai kemampuan produksi dalam negeri sudah cukup besar dalam menopang kebutuhan masyarakat.

"Produksi domestik (daging sapi atau kerbau) sebenarnya sudah mampu memenuhi sekitar 78,2 persen kebutuhan," ungkap Suwandi.

Di tengah ketergantungan terhadap sejumlah komoditas, pemerintah menyebut Indonesia telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan strategis dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Salah satunya adalah beras.

Produksi beras tahun ini diproyeksikan mencapai sekitar 34,77 juta ton, sementara kebutuhan nasional disebut sekitar 3,56 juta ton.

Komoditas jagung juga disebut mengalami surplus.

Produksinya diperkirakan mencapai 18 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional sekitar 16,60 juta ton.

Dengan demikian, terdapat surplus sekitar 1,40 juta ton.

Pada sektor hortikultura, produksi cabai besar mencapai sekitar 1,53 juta ton dengan surplus sekitar 592.500 ton.

Produksi cabai rawit mencapai 1,49 juta ton dengan surplus sekitar 583.900 ton, sedangkan bawang merah mencapai 1,30 juta ton dengan surplus sekitar 54.400 ton.

Di sektor peternakan, produksi ayam ras disebut mengalami surplus sekitar 862.900 ton dan telur ayam ras sekitar 711.000 ton.

Gula konsumsi juga disebut surplus sekitar 191.000 ton.

"Pada komoditas hortikultura, produksi cabai besar mencapai 1,53 juta ton dengan surplus sekitar 592,500 ton, cabai rawit mencapai 1,49 juta ton dengan surplus sekitar 583,900 dan bawang merah mencapai 1,30 juta ton dengan surplus sekitar 54,400 ton," ungkap Suwandi.

Menurut Suwandi, surplus produksi sejumlah komoditas tersebut menunjukkan kemampuan produksi pangan nasional semakin kuat.

Produksi dalam negeri tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga menyediakan cadangan untuk menjaga stabilitas pasokan.

"Ini menunjukkan bahwa kemampuan produksi nasional sudah semakin kuat dan tidak hanya mampu memenuhi konsumsi, tetapi juga menyediakan cadangan untuk menjaga stabilitas pasokan," sambung dia.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Hermanto Siregar menilai Indonesia dapat dikatakan telah mencapai swasembada pangan, meskipun belum pada seluruh komoditas.

Surplus sejumlah pangan strategis menjadi salah satu indikator bahwa produksi nasional telah mampu memenuhi kebutuhan untuk beberapa komoditas.

Namun, persoalan pangan tidak berhenti pada kemampuan produksi.

Akses masyarakat terhadap pangan juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan pemerintah.

Hermanto mengatakan masih terdapat kesenjangan pendapatan rumah tangga.

Sebagian masyarakat memiliki pendapatan yang cukup sehingga dapat membeli pangan dengan mudah.

Namun, ada pula kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang kesulitan mendapatkan pangan berkualitas dengan harga terjangkau.

"Jadi, meskipun kita sudah swasembada pangan, sebagian rumah tangga masih membutuhkan bantuan pemerintah agar komoditas pangan bagi mereka disediakan dengan harga yang lebih rendah. Artinya, masih ada 'pekerjaan rumah' dalam dimensi akses pangan," kata Hermanto.

Karena itu, pemerintah dinilai tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi.

Rantai distribusi pangan juga perlu diperbaiki agar biaya distribusi tidak terlalu tinggi dan harga pangan tetap terjangkau.

Distribusi yang panjang dapat membuat harga pangan meningkat sebelum sampai ke konsumen.

Kondisi tersebut paling berisiko bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Jika persoalan keterjangkauan tidak ditangani, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah tetap dapat mengalami kerawanan pangan meskipun produksi nasional meningkat.

Pada akhirnya, keberhasilan swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pangan yang diproduksi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk memperoleh pangan tersebut dengan harga yang terjangkau.* (km/ad)

Editor
: Mass Arie
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Harga Ayam Potong di Medan Tembus Rp60 Ribu per Kg, Warga: Sejak MBG Ada, Naiknya Tak Masuk Akal
Demokrat Bantah Pidato AHY Jadi Sinyal Maju Pilpres 2029
Harga Pangan Naik, Cabai Rawit Merah Tembus Rp91.300 per Kilogram!
Ketua Komisi III DPR: Pemerintahan Prabowo Lebih Demokratis Dibanding Pemerintahan Sebelumnya
Ekspor Sumut Tembus Rp8,1 Triliun, Bobby Nasution Incar Pasar China untuk Durian dan Genjot Potensi Nias
Gempa Flores, Erupsi Krakatau, hingga Karhutla, Prabowo Wacanakan Gabung Badan Geologi dengan BMKG
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru