Presiden Prabowo Subianto saat tiba di Bandar Udara Internasional Sharm El-Sheikh, Republik Arab Mesir, 13 Oktober 2025. Untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Sharm El-Sheikh. (foto: BPMI Setpres)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
JAKARTA – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman, menanggapi kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait intensitas perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Ia menilai kritik tersebut tidak berbasis data yang akurat dan tidak konstruktif.
Habiburokhman menegaskan bahwa di era keterbukaan, setiap kritik tetap dihormati.
Namun, ia menyebut kritik yang disampaikan Dino justru berpotensi bersifat politis dan tidak mencerminkan informasi yang utuh.
"Di era demokrasi dan keterbukaan, tentu kita senantiasa membuka diri terhadap kritik, termasuk dari mantan pejabat tinggi seperti Dino Patti Djalal," kata Habiburokhman kepada wartawan, Selasa (2/6/2026).
"Namun demikian, sebagai sesama anak bangsa, saya harus mengkritik balik Dino. Kritik beliau tidak produktif karena tidak berbasis info yang akurat, bahkan ada tendensi sebagai serangan politik," ujarnya.
Menurut Habiburokhman, usulan Dino agar Presiden Prabowo lebih banyak mengundang pemimpin negara lain ke Indonesia ketimbang melakukan kunjunganluar negeri tidak sepenuhnya tepat.
Ia menilai, kondisi global saat ini justru menuntut kepala negara untuk aktif melakukan diplomasi langsung.
Ia juga mencontohkan praktik diplomasi sejumlah pemimpin dunia yang tetap melakukan kunjungan ke negara lain untuk memperjuangkan kepentingan nasional masing-masing.
"Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kepala negara perlu sangat proaktif, baik menerima kunjungan maupun mengunjungi pemimpin negara lain," katanya.
Habiburokhman turut menilai kritik dari mantan pejabat terhadap penerusnya dapat berdampak negatif apabila tidak disampaikan secara proporsional.
Menurut dia, hal itu berpotensi menjadi bahan perbandingan publik yang merugikan salah satu pihak.
"Di negara-negara maju, mantan pejabat biasanya membatasi diri untuk mengkritik penerusnya. Itu bentuk penghormatan kepada yang sedang bekerja," ujarnya.
Sebelumnya, Dino Patti Djalal dalam sebuah video di media sosial menyebut Presiden Prabowo Subianto cukup sering melakukan perjalanan luar negeri sejak menjabat.
Ia bahkan menyebut sekitar satu dari enam hari masa kepresidenan dihabiskan di luar negeri.
Dino juga menilai kunjungan kepala negara ke luar negeri memerlukan biaya besar, mulai dari transportasi, akomodasi, hingga kebutuhan protokoler dan pengamanan.
Karena itu, ia menyarankan agar komunikasi diplomatik juga dapat diperkuat melalui jalur daring seperti telepon atau video call.*
(d/ad)
Editor
: Dharma
Habiburokhman Respons Kritik Eks Wamenlu soal Prabowo Sering ke Luar Negeri: Ada Tendensi Serangan Politik