Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengungkap adanya komunikasi antara Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM. Pernyataan tersebut disampaikan saat Budi Arie membahas karakter kepemimpinan populis dan sosok yang dinilai memiliki kedekatan dengan masyarakat.
Budi Arie menyebut Dedi Mulyadi memiliki gaya komunikasi yang dekat dengan masyarakat. Menurutnya, pendekatan populis menjadi salah satu modal bagi seorang pemimpin untuk mendapatkan dukungan dan mandat politik.
"Rakyat butuh populisme. Nah, itu kan didapat dari KDM," ujar Budi Arie, dikutip Jumat (11/9/2026).
Baca Juga:
Saat ditanya mengenai hubungan Dedi Mulyadi dengan Jokowi, Budi Arie mengatakan keduanya memiliki komunikasi.
"Ya mereka ada hubungan dan komunikasi," katanya.
Budi Arie kemudian membandingkan gaya politik Dedi Mulyadi dengan Jokowi. Dia menilai terdapat kemiripan dalam cara keduanya berkomunikasi dan membangun kedekatan dengan masyarakat.
"Kalau mau jujur langgamnya atau gayanya Pak Kang Deni Mul ini agak mirip-mirip Pak Jokowian, rakyat-rakyat bicara padanya, mendekati rakyat begitu loh," ujarnya.
Pernyataan Budi Arie tersebut kemudian mendapat perhatian dari analis politik sekaligus Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno.
Adi menilai pujian Budi Arie kepada Dedi Mulyadi memiliki makna politik tersendiri. Menurutnya, Budi Arie tidak mudah memberikan penilaian positif terhadap tokoh politik lain.
"Makanya Budi Arie itu bilang KDM itu ya ini adalah Jokowi versi Jawa Barat. Itu kan nyata. Enggak gampang loh Budi Arie itu muji orang, Mang," kata Adi.
Adi melihat Dedi Mulyadi sebagai figur yang memiliki karakter populis sekaligus dekat dengan masyarakat. Menurutnya, karakter tersebut memiliki kemiripan dengan citra politik Jokowi.
"Enggak gampang, Bang Budi itu yang dipuji cuma satu, Pak Jokowi," ujar Adi.
Pembicaraan mengenai Dedi Mulyadi muncul ketika diskusi menyoroti kebutuhan terhadap figur yang mampu menggabungkan pendekatan populis dengan kapasitas teknokratis. Dalam konteks tersebut, KDM disebut sebagai salah satu figur yang dinilai memiliki modal politik tersebut.
Namun, pernyataan Budi Arie mengenai Dedi Mulyadi belum dapat dimaknai sebagai dukungan resmi terhadap pencalonan tertentu pada Pemilu Presiden 2029. Demikian pula komunikasi antara Jokowi dan Dedi Mulyadi yang disebut Budi Arie belum otomatis menunjukkan adanya kesepakatan politik terkait Pilpres 2029.
Isu mengenai kemungkinan pasangan atau konfigurasi politik untuk Pilpres 2029 masih berada dalam ranah wacana dan pembahasan politik.* (fj/dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.