BREAKING NEWS
Kamis, 15 Oktober 2026

SBY Kenang 10 Tahun Didemo Saat Jadi Presiden: Kalau Tak Mendengar Rakyat, Bisa Jatuh

Raman Krisna - Rabu, 14 Oktober 2026 22:42 WIB
SBY Kenang 10 Tahun Didemo Saat Jadi Presiden: Kalau Tak Mendengar Rakyat, Bisa Jatuh
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam acara Dies Natalis ke-68 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad), Selasa (13/10/2026). (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

BANDUNG – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengenang pengalamannya menghadapi demonstrasi selama menjabat sebagai Presiden RI pada 2004–2014.

Menurut dia, unjuk rasa merupakan bagian dari demokrasi yang harus dihormati oleh setiap pemimpin.

Hal itu disampaikan SBY saat memberikan orasi ilmiah dalam acara Dies Natalis ke-68 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad), Selasa (13/10/2026).

Baca Juga:

Dalam kesempatan tersebut, SBY bercerita tentang perbincangannya dengan Rektor Unpad, Arief Kartasasmita, ketika mengunjungi ruang kerja rektor.

Ia mengaku terkesan dengan suasana ruangan yang dinilainya indah dan dapat menjadi sumber inspirasi.

"Saya tengok, indah sekali. Di sebelah sana ada pohon-pohon, saya pengen melukis dari sana tadi itu. Terus overlooking ada air mancur di depan itu, saya bilang, 'Pak, ini indah sekali, Bapak ini punya banyak inspirasi, memajukan Unpad, ikut memikirkan negara'," ujar SBY.

Arief, menurut cerita SBY, mengatakan bahwa suasana ruang kerja tersebut memang kerap memberinya inspirasi.

Namun, inspirasi itu bisa terganggu ketika mahasiswa menggelar demonstrasi di depan gedung.

"Kata beliau, 'betul Pak, sepanjang tidak ada unjuk rasa di depan situ. Kalau mahasiswanya sering unjuk rasa, inspirasinya buntu'," kata SBY.

Menanggapi cerita tersebut, SBY mengingatkan bahwa demonstrasi merupakan hak masyarakat dalam negara demokrasi.

Ia kemudian membandingkan pengalaman Arief menghadapi unjuk rasa dengan pengalamannya selama memimpin Indonesia selama satu dekade.

"Unjuk rasa boleh, saya bilang, 'Bapak, unjuk rasa baru sekali dua kali, aku 10 tahun diunjuk rasa dulu'," ucapnya.

SBY menegaskan, pemimpin tidak seharusnya menganggap demonstrasi sebagai sesuatu yang harus dihindari.

Sebaliknya, aspirasi masyarakat perlu didengar karena dapat menjadi bagian dari pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.

"Tapi tidak apa-apa, itulah demokrasi, itulah suara rakyat, harus kita dengar. Kalau saya tidak mendengar suara rakyat, bisa jatuh. Tidak apa-apa," tegas SBY.

Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya sikap terbuka seorang pemimpin dalam menghadapi kritik.

Dalam demokrasi, masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, termasuk melalui demonstrasi, sedangkan pemerintah perlu memperhatikan aspirasi yang disampaikan.

Dalam orasi ilmiahnya, SBY juga menekankan bahwa pemimpin di setiap generasi memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan pembangunan bangsa terus berjalan ke arah yang benar.

Menurut dia, pemimpin tidak boleh hanya berfokus pada kepentingan politik jangka pendek.

Setiap kebijakan dan keputusan perlu mempertimbangkan masa depan Indonesia dalam jangka panjang.

"Meskipun itu cara politik dianggap normal. Tapi lihat lah, pastikan lah gerak maju bangsa ini 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun, betul-betul menuju ke arah yang benar," ucapnya.

SBY juga mengingatkan bahwa cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara maju membutuhkan persatuan dan kerja keras.

Selain itu, kepemimpinan harus didukung visi yang jelas, kecakapan, serta integritas.

"Lantas yang kita kejar tadi advanced society, part of the great civilization. Pemimpin mesti punya visi cakap dan kuat. Pemimpin tidak mudah, tidak boleh mudah jatuh. Cakap, tapi juga punya visi dan punya integritas," imbuh SBY.

Melalui orasi tersebut, SBY menekankan dua hal penting dalam kepemimpinan, yakni kesediaan mendengarkan suara rakyat dan kemampuan menjaga arah pembangunan bangsa dalam jangka panjang.* (tm/ad)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Pembangunan BRT Mebidang Bikin Medan Macet, Driver Ojol dan Taksi Online Keluhkan BBM Boros
KPK Gelar Sosialisasi Pencegahan Korupsi di Pemkot Tegal, Kegiatan Berlangsung Tertutup
Forum BEM se-DIY Ultimatum Gibran Mundur dalam 7 Hari, Desak DPR Bentuk Pansus: Jika Tak Direspons, Gibran Dianggap Berhenti sebagai Wapres
Dua Tahun Prabowo-Gibran, Penilaian Positif Publik terhadap Arah Bangsa Turun dari 83% Menjadi 48%
Demo di Kantor Wali Kota Binjai Berakhir Ricuh, Koordinator Aksi Laporkan Dugaan Pemukulan oleh Satpol PP
Kualitas Udara Medan Memburuk! ISPU Medan Tembus Angka 136, DLH Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru