Wamenkeu: Ekonomi RI Kuat, Jauh dari Risiko Krisis Seperti 1998
JAKARTA Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang kuat dan jau
EKONOMI
JAKARTA - Meskipun telah terintegrasi ke dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, kecerdasan buatan (AI) ternyata belum sepenuhnya mampu memahami bahasa manusia dalam arti yang sesungguhnya.
Hal ini diungkap oleh sejumlah pakar yang menyoroti keterbatasan AI generatif, termasuk chatbot populer seperti ChatGPT.
Profesor Veena Dwivedi dari Departemen Psikologi dan Pusat Ilmu Saraf Universitas Brock menyatakan bahwa meskipun AI tampak mampu menanggapi bahasa manusia dalam bentuk teks, pemahamannya tidak mencakup konteks emosional, sosial, dan lingkungan seperti halnya manusia.
"Komunikasi linguistik bukan hanya soal kata-kata. Nada suara, ekspresi wajah, isyarat tubuh, hingga konteks sosial sangat menentukan makna sebuah pesan," ujar Dwivedi, dikutip dari laporan ilmiah terbaru, Minggu (22/6/2025).
Sebagai contoh, kalimat sederhana seperti "Saya hamil" dapat memiliki makna yang sangat berbeda tergantung siapa yang mengucapkannya dan kepada siapa kalimat itu ditujukan.
Perbedaan ini tidak bisa ditangkap oleh AI karena ketidakmampuannya membaca konteks emosional dan sosial secara utuh.
Pernyataan Dwivedi juga merespons komentar sebelumnya dari Geoffrey Hinton, pelopor AI dan peraih Nobel, yang mengaku terkejut dengan kemampuan jaringan saraf dalam memahami bahasa alami.
Namun Dwivedi menekankan, "Teks di layar dan bahasa bukanlah hal yang identik. Jaringan saraf buatan dalam AI tidak bisa disamakan dengan jaringan otak manusia."
Menurutnya, manusia sejak bayi sudah mampu memahami isyarat dan konteks sosial dalam komunikasi, sementara AI hanya mengandalkan pola data yang tersaji secara literal.
Meski demikian, AI tetap memiliki peran penting dalam mempermudah kehidupan manusia di era digital saat ini, mulai dari layanan pelanggan otomatis hingga asisten pribadi berbasis suara.
Namun, para ahli mengingatkan agar kemampuan AI tidak disalahartikan sebagai bentuk kecerdasan yang sejajar dengan manusia.
"Penting bagi publik untuk memahami bahwa AI tidak 'mengerti' seperti manusia. Ia hanya mensimulasikan respons berdasarkan data yang tersedia," tutup Dwivedi.*
JAKARTA Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang kuat dan jau
EKONOMI
TANJUNGBALAI Ada yang spesial pada apel pagi hari senin (25/5/2026) yang dipimpin Asisten Administrasi dan Umum Setdako Tanjungbalai Wal
PEMERINTAHAN
BINJAI Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Binjai melaksanakan pelantikan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah seKota Binjai period
NASIONAL
JAKARTA Sidang lanjutan kasus dugaan pemerasan pengurusan sertifikasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Kementerian Ketenagakerjaa
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Pemerintah mengungkap adanya selisih besar dalam data perdagangan Indonesia dengan sejumlah negara mitra dagang utama, yang nila
EKONOMI
BATU BARA Kecamatan Tanjung Tiram kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Gebyar PBBP2 Tahun 2026. Di bawah kepemimpinan P
PEMERINTAHAN
MEDAN Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Utara (Sumut) menyatakan kesiapan untuk mengkolaborasikan pameran kerajinan internasional I
EKONOMI
JAKARTA Luhut Binsar Pandjaitan mendorong penerapan sistem berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk memperkuat peng
EKONOMI
JAKARTA Airlangga Hartarto membandingkan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam dua dekade terakhir. Ia
EKONOMI
JAKARTA PLN (Persero) memastikan sistem kelistrikan di Sumatera telah kembali normal dan stabil setelah insiden blackout yang sempat mel
NASIONAL