Spanduk Tolak Kedatangan Jokowi Bermunculan di Tangerang, Begini Respons PSI
TANGERANG Sejumlah spanduk berisi penolakan terhadap rencana kedatangan mantan Presiden Joko Widodo atau Jokowi terpasang di sejumlah ti
POLITIK
SILICON VALLEY - Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), para eksekutif teknologi di Silicon Valley kini berlomba menciptakan generasi manusia supercerdas. Salah satu caranya: memilih embrio dengan potensi IQ tinggi melalui teknologi penyaringan genetik.
Fenomena ini bukan fiksi ilmiah. Layanan seleksi embrio berbasis genetika kini ditawarkan dengan harga mulai dari US$6.000 hingga US$50.000 (sekitar Rp 90 juta hingga Rp 800 juta). Tujuannya? Meningkatkan peluang anak memiliki kecerdasan tinggi.
Tokoh seperti Tsvi Benson-Tilsen, matematikawan sekaligus pendiri Berkeley Genomics Project, mengalihkan fokus dari bahaya AI ke solusi jangka panjang: membantu manusia jadi lebih cerdas untuk tetap relevan di tengah dominasi kecerdasan buatan.
"Intuisi saya mengatakan ini adalah salah satu pilihan terbaik kita," kata Benson-Tilsen.
Nama-nama besar seperti Elon Musk bahkan dikabarkan mendorong "perjodohan jenius" agar anak-anak masa depan memiliki kombinasi genetik unggul. Bahkan, layanan mak comblang eksklusif seperti milik Jennifer Donnelly bisa dibanderol hingga US$500.000, dengan fokus pada lulusan Ivy League atau pasangan "berpotensi genetik".
"Mereka percaya sukses karena punya gen bagus, dan kini yakin bisa mewariskannya," ujar Sasha Gusev, ahli genetika dari Harvard Medical School.
Namun, para ilmuwan mengingatkan bahwa akurasi prediksi IQ embrio masih rendah, hanya mampu menjelaskan 5–10% variasi kecerdasan. Shai Carmi dari Universitas Ibrani Yerusalem mencatat, peningkatan IQ hasil seleksi genetik rata-rata hanya 3–4 poin.
Tak hanya minim efektivitas, penyaringan genetik embrio juga menyimpan risiko kesehatan. Beberapa gen yang diasosiasikan dengan IQ tinggi juga berhubungan dengan autisme dan gangguan lain.
Hank Greely, Direktur Pusat Hukum dan Ilmu Hayati Universitas Stanford, memperingatkan tentang potensi kesenjangan sosial.
"Ini seperti plot film fiksi ilmiah – orang kaya menciptakan generasi unggul, sementara masyarakat biasa tertinggal," katanya.
Meskipun menuai kritik, permintaan terhadap layanan ini terus meningkat. Para pendukungnya percaya bahwa membangun generasi jenius adalah cara terbaik untuk memastikan manusia tetap memiliki peran penting di era AI.
"Menciptakan lebih banyak orang jenius adalah salah satu cara kita bertahan," tegas Benson-Tilsen.*
TANGERANG Sejumlah spanduk berisi penolakan terhadap rencana kedatangan mantan Presiden Joko Widodo atau Jokowi terpasang di sejumlah ti
POLITIK
DELI SERDANG Seorang remaja lakilaki berinisial MAH, 18 tahun, diamankan polisi setelah diduga menyekap dan mengancam ibu kandungnya di
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Hakim tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menolak gugatan praperadilan keempat yang diajukan Roy Suryo terhadap Polda Metr
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai mengajak mantan Menteri Koperasi dan UKM Budi Arie Setiadi untuk bertarung secara
POLITIK
JAKARTA Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menegaskan bahwa mantan Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi tidak memiliki h
POLITIK
BANDA ACEH Seorang pria berinisial MM, 20 tahun, diamankan polisi setelah diduga membawa kabur sepeda motor milik seorang mahasiswi di B
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026. Rupiah naik 0,19 persen atau 34 poin ke level Rp17.689
EKONOMI
MEDAN Danau Lau Kawar menjadi salah satu destinasi wisata alam yang dikenal masyarakat Sumatera Utara. Danau ini berada di kaki Gunung S
PARIWISATA
MEDAN Kasus dugaan penganiayaan terhadap tetangga yang menyeret anggota DPRD Kota Medan, Antonius Devolis Tumanggor, dihentikan oleh Pol
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melemah pada awal perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026. Hingga pukul 09.05 WIB, IHSG turun 68
EKONOMI