BREAKING NEWS
Selasa, 10 Maret 2026

Laporan Bocor Ungkap Meta Raup Triliunan dari Iklan Penipuan, Dikecam Pakar Keamanan Digital

Adelia Syafitri - Kamis, 13 November 2025 07:58 WIB
Laporan Bocor Ungkap Meta Raup Triliunan dari Iklan Penipuan, Dikecam Pakar Keamanan Digital
ilustrasi (Foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, Meta Platforms Inc., kembali menuai kritik setelah laporan internal yang bocor menunjukkan bahwa sekitar 10 persen pendapatan tahun 2024 berasal dari iklan penipuan dan promosi barang terlarang.

Dokumen yang pertama kali diungkap oleh Reuters itu menyebutkan, dari total pendapatan Meta sebesar 164,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.748 triliun, sedikitnya 16 miliar dolar AS (Rp 267 triliun) bersumber dari iklan bermasalah.

Angka ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai sejauh mana Meta menegakkan standar keamanan iklan dan tanggung jawabnya terhadap konten berisiko di platformnya sendiri.

Baca Juga:

Dalam dokumen yang sama, Meta mengkategorikan sebagian pengiklan sebagai "berisiko tinggi" karena pernah terdeteksi mempromosikan konten scam, investasi palsu, atau barang ilegal.

Alih-alih memblokir mereka, perusahaan disebut menerapkan tarif iklan lebih mahal dengan alasan "pencegahan".
Namun kebijakan itu justru memperlihatkan paradoks: Meta tetap memperoleh keuntungan besar dari iklan yang seharusnya dilarang.

Sistem algoritma personalisasi Meta juga dianggap memperparah situasi.

Pengguna yang pernah mengeklik iklan penipuan cenderung akan disodori iklan serupa lebih sering.

Dokumen internal Desember 2024 memperkirakan ada 15 miliar tayangan iklan berisiko tinggi setiap hari di ekosistem Meta.

Selama tiga tahun terakhir, upaya perusahaan untuk menekan peredaran iklan investasi bodong, e-commerce palsu, kasino ilegal, dan obat terlarang belum menunjukkan hasil signifikan.


Temuan ini memicu reaksi keras dari kalangan pemerhati keamanan siber.

Mantan penyelidik keamanan Meta, Sandeep Abraham, menilai praktik tersebut mencerminkan lemahnya pengawasan terhadap industri periklanan digital.

"Jika regulator tidak membiarkan bank mendapat keuntungan dari aktivitas penipuan, perusahaan teknologi pun seharusnya tidak diizinkan melakukan hal yang sama," ujarnya kepada Reuters.


Menanggapi laporan tersebut, Andy Stone, juru bicara Meta, membantah tudingan bahwa perusahaan sengaja mengambil keuntungan dari iklan penipuan.

Ia menyebut data dalam dokumen bocor itu merupakan "perkiraan kasar yang terlalu luas cakupannya."

Stone menegaskan bahwa sebagian besar iklan yang termasuk dalam hitungan tersebut adalah iklan sah, dan analisis internal itu digunakan untuk mengevaluasi efektivitas investasi keamanan, bukan untuk menilai ketergantungan perusahaan terhadap iklan scam.

Meta juga mengklaim telah menghapus lebih dari 134 juta iklan penipuan sepanjang 2025 dan menargetkan penurunan 50 persen iklan scam di sejumlah wilayah pada tahun mendatang.

Perusahaan menyebut laporan pengguna terkait iklan bermasalah telah turun 58 persen secara global dalam 18 bulan terakhir.

Meski demikian, laporan bocor ini kembali menyoroti dilema besar dalam bisnis media sosial modern: antara pertumbuhan pendapatan dan tanggung jawab etika terhadap pengguna.*

(k/dh)

Editor
: Adam
0 komentar
Tags
beritaTerkait
WhatsApp Uji Fitur Baru ‘Message Request’ untuk Cegah Pesan dari Nomor Tak Dikenal
Najelaa Shihab Ungkap Tujuan Sebenarnya WA Grup ‘Mas Menteri’ dengan Nadiem Makarim
Kini Reels yang Hilang Bisa Ditonton Kembali! Instagram Perkenalkan “Watch History”
Meta Luncurkan Fitur Anti-Penipuan di WhatsApp dan Messenger, Targetkan Lindungi Lansia
Deretan Fitur Baru WhatsApp 2025, dari Live Photo hingga Pindai Dokumen
WhatsApp Siapkan Fitur Username, Pengguna Tak Lagi Bergantung Nomor Telepon
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru