Air Mati Berhari-hari, LAPK Desak Tirtanadi Beri Kompensasi ke Pelanggan
MEDAN Gangguan distribusi air bersih yang dialami pelanggan Perumda Tirtanadi dalam beberapa hari terakhir mendapat sorotan dari Lembaga
PERISTIWA
MEDAN - Fenomena "hari 25 jam di Bumi" kembali ramai dibicarakan di media sosial.
Banyak unggahan viral menampilkan klaim seolah durasi sehari akan segera bertambah satu jam, padahal para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan ini terjadi secara perlahan dan tidak berdampak pada kehidupan manusia saat ini.
Rotasi Bumi memang melambat, namun prosesnya berlangsung sangat lambat, dengan laju sekitar 1,7 milidetik per abad.Baca Juga:
Berdasarkan penelitian, satu hari di Bumi baru akan mencapai 25 jam sekitar 200 juta tahun mendatang, jauh dari jangkauan kehidupan manusia modern.
Ada beberapa faktor utama yang membuat Bumi berputar lebih lambat:
- Gaya pasang surut Bulan: Tarikan gravitasi Bulan terhadap lautan menimbulkan gesekan yang perlahan memperlambat rotasi Bumi.
- Pergerakan inti dan mantel: Aliran besi cair di inti dan dinamika mantel mengubah distribusi massa, memengaruhi kecepatan putaran planet.
- Perubahan gletser dan permukaan laut: Mencair atau menumpuknya es memengaruhi distribusi berat antara daratan dan laut.
- Atmosfer dan pola angin: Momentum udara yang bergerak di permukaan Bumi turut memengaruhi rotasi.
Proses-proses ini telah berlangsung selama miliaran tahun. Di masa dinosaurus, satu hari diperkirakan hanya berlangsung sekitar 23 jam.
Dampak Jangka Panjang Jika Hari Menjadi 25 Jam
Jika suatu saat hari di Bumi benar-benar mencapai 25 jam, sistem penanggalan dan jam akan membutuhkan penyesuaian.
Selain itu, ritme biologis makhluk hidup, termasuk manusia, juga akan terpengaruh.
Ritme sirkadian 24 jam yang mengatur siklus tidur, produksi hormon, dan metabolisme dapat terganggu, mirip kondisi jet lag atau pekerja shift malam.
Meski demikian, perubahan ini berlangsung sangat lambat, sehingga organisme hidup diperkirakan dapat beradaptasi melalui evolusi tanpa dampak signifikan bagi kehidupan manusia modern.
Para ilmuwan menegaskan bahwa fenomena ini lebih merupakan fakta ilmiah jangka panjang, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan sekarang.*
MEDAN Gangguan distribusi air bersih yang dialami pelanggan Perumda Tirtanadi dalam beberapa hari terakhir mendapat sorotan dari Lembaga
PERISTIWA
DELI SERDANG Pelatih Timnas Indonesia U19, Nova Arianto, menyatakan optimistis menghadapi Australia dalam lanjutan ASEAN U19 Boys Cham
OLAHRAGA
MEDAN Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution bersama Kementerian Hukum meresmikan 6.110 Pos Bantuan Hukum (Posbankum) yang
HUKUM DAN KRIMINAL
DAIRI Satuan Reserse Kriminal Polres Dairi mengungkap fakta di balik kasus dugaan pembegalan yang sempat viral di Kabupaten Dairi, Sumat
HUKUM DAN KRIMINAL
MEDAN Sebanyak 45 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sumatera Utara dilaporkan tida
PERISTIWA
JAKARTA Polemik penghentian operasional sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akibat dana Badan Gizi Nasional (BGN) yang belum
PEMERINTAHAN
LAMPUNG Presiden Prabowo Subianto menghadiri sekaligus membuka Musyawarah Nasional (Munas) keXVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (H
POLITIK
MEDAN Pelatih Timnas Indonesia U19, Nova Arianto, meminta anak asuhnya tampil tanpa rasa takut dan bermain disiplin jelang laga semifin
OLAHRAGA
JAKARTA Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman membantah isu yang menyebut dirinya memiliki dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan
POLITIK
JAKARTA Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengungkap kebutuhan anggaran pertahanan tahun 2027 mencapai Rp 667 triliun. Nam
POLITIK