BREAKING NEWS
Rabu, 11 Maret 2026

Mengenal Tari Gubang, Tarian Sakral yang Sarat Filosofi Masyarakat Melayu Tanjungbalai-Asahan

Abyadi Siregar - Minggu, 11 Januari 2026 14:47 WIB
Mengenal Tari Gubang, Tarian Sakral yang Sarat Filosofi Masyarakat Melayu Tanjungbalai-Asahan
Tari Gubang. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

ASAHAN— Di balik gemulai gerakan yang anggun dan irama musik Melayu yang memukau, Tari Gubang bukan sekadar seni pertunjukan.

Lebih dari itu, tarian ini menyimpan cerita panjang tentang sejarah, spiritualitas, dan identitas masyarakat pesisir Tanjungbalai dan Asahan, Sumatera Utara.

Tari Gubang adalah simbol dari hubungan yang erat antara manusia, laut, alam, dan Sang Pencipta.

Baca Juga:

Tari Gubang lahir dan tumbuh di wilayah Tanjungbalai dan Asahan yang dulunya merupakan satu kesatuan daerah.

Kini, ia telah menjadi simbol kebudayaan Melayu yang hidup dan berkembang, diwariskan secara turun-temurun sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa yang harus dijaga kelestariannya.

Pada tahun 2017, pemerintah Indonesia resmi menetapkan Tari Gubang sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Penetapan ini menjadi bukti bahwa Tari Gubang tidak hanya penting bagi masyarakat lokal, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia.

Asal-Usul Tari Gubang dan Maknanya

Menurut Samsuriati, seorang pelestari seni Tari Gubang, tarian ini pada awalnya bukan sekadar hiburan.

"Tari Gubang berawal dari ritual sakral yang dipercaya oleh masyarakat Melayu Tanjungbalai-Asahan sebagai cara untuk memohon perlindungan dari penyakit dan gangguan gaib," jelas Samsuriati, saat ditemui di lokasi pertunjukan, Minggu (11/1).

Ritual tersebut melibatkan properti seperti dupa, kemenyan, tombak, mayang pinang, dan air tepung tawar yang dipercikkan untuk menolak bala.

Tari Gubang menggambarkan proses pengobatan yang dilakukan oleh tabib atau dukun dengan berbagai gerakan khas yang penuh simbolisme.

Gerakan Tari yang Penuh Makna

Setiap gerakan dalam Tari Gubang menggambarkan berbagai aspek kehidupan masyarakat pesisir.

Salah satu gerakan yang paling khas adalah "gerak sembah," yang menunjukkan penghormatan kepada tamu.

Gerakan ini dilakukan dengan posisi tubuh merendah, kepala tertunduk, dan kedua tangan bertemu di dada.

Gerakan lainnya, seperti mempersilakan tamu dan memeriksa tamu, menggambarkan bagaimana masyarakat Melayu menyambut dan menghormati kedatangan orang asing dengan tulus.

Samsuriati juga menambahkan, "Tari Gubang menggambarkan kehidupan nelayan, mulai dari merajut jala, persiapan melaut, hingga kegembiraan ketika layar perahu sudah siap dikembangkan."

Makna Ritual dalam Kehidupan Masyarakat

Kehadiran Tari Gubang juga erat kaitannya dengan sejarah Kesultanan Melayu Asahan yang berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan perikanan sejak abad ke-16. Di masa itu, mayoritas masyarakat berprofesi sebagai nelayan.

Kata "gubang" sendiri berasal dari dialek Melayu yang merujuk pada perahu kecil atau sampan, yang biasa digunakan nelayan untuk mencari ikan. Dari sinilah, tarian ini mengadopsi nama tersebut.


Dalam pertunjukan Tari Gubang, penari menggambarkan adegan-adegan seperti orang yang sedang sakit, yang kemudian dikelilingi oleh tabib yang menggoyangkan mayang pinang untuk mengusir penyakit dan energi negatif.

Properti tombak emas yang digunakan oleh tabib juga memiliki makna simbolik yang terkait dengan keahlian nelayan serta kesakralan ritual pengobatan.

Pentingnya Pelestarian Tari Gubang

Tari Gubang kini sering dipertunjukkan dalam berbagai acara budaya di Kabupaten Asahan, bahkan setiap tahun ada festival khusus yang menampilkan tarian ini.

"Generasi muda harus semakin peduli dan berperan dalam melestarikan Tari Gubang," kata Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Indonesia (MABMI) Kabupaten Asahan.

Menurutnya, integrasi Tari Gubang ke dalam pendidikan formal dan pengadaan festival kebudayaan adalah cara yang efektif untuk menjaga agar budaya Melayu tetap hidup di kalangan anak muda.

Tari Gubang, dengan segala keindahan dan nilai historis yang terkandung di dalamnya, bukan hanya menjadi warisan budaya yang patut dibanggakan, tetapi juga menjadi simbol jati diri masyarakat Melayu yang tidak akan pernah hilang meskipun zaman terus berubah.

Tari Gubang bukan hanya sekadar hiburan, tetapi sebuah representasi dari perjalanan sejarah, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat pesisir Melayu Tanjungbalai-Asahan.

Melalui kesenian ini, masyarakat berharap agar budaya Melayu terus dilestarikan dan dihargai oleh generasi mendatang.

Dengan adanya festival tahunan dan upaya integrasi budaya ke dalam pendidikan, Tari Gubang akan terus menjadi bagian penting dari identitas budaya Indonesia.*


(mi/ad)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Menelusuri Jejak Sejarah Empat Bangunan Cagar Budaya Kota Binjai yang Masih Berdiri Hingga Kini
Sinergi Polri-TNI-Pecalang, Dua Prosesi Ngaben di Denpasar Timur Berjalan Aman dan Khidmat
Gara-Gara Stik Billiard, Tahanan Lapas Tanjungbalai Diduga Jadi Korban Kekerasan Petugas!
PWI Pusat Gelar Silaturahmi Kebudayaan Jelang HPN 2026, Kepala Daerah Ikut Presentasi
Museum Perkebunan Indonesia 1: Sejarah dan Seni Bisa Dirasa, Didengar, Bahkan Dicium!
Sigale-gale, Patung Kayu Penari dari Danau Toba yang Menyimpan Misteri Roh Leluhur
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru