MEDAN – Ikan arsik bukan sekadar hidangan di meja makan masyarakat BatakToba.
Lebih dari itu, kuliner khas Sumatera Utara ini menyimpan sejarah, makna spiritual, dan filosofi sosial yang telah diwariskan turun-temurun.
Berdasarkan kajian Jurnal Gastronomi Indonesia, pada awalnya masyarakat Batak menggunakan ikan jurung, ikan air tawar yang hidup di Danau Toba, dalam berbagai upacara adat.
Ikan ini dikenal dengan sebutan dekke si tiho atau "ikan suci" karena penangkapan dan penggunaannya memiliki aturan sakral tertentu.
Perubahan terjadi seiring berkembangnya budidaya ikan mas di Sumatera pada awal abad ke-20.
Ikan mas mulai menggantikanikan jurung dalam masakan arsik, khususnya di wilayah Padang Sidempuan dan Bukittinggi.
Sejak itu, ikanarsik berkembang menjadi salah satu simbol penting dalam ritual Batak, seperti pernikahan, pesta tujuh bulan kehamilan (mambosuri), mangupa, hingga pembaptisan anak.
Secara bahan, ikanarsik diolah dengan beragam rempah khas, terutama andaliman, rempah lokal Sumatera Utara yang memiliki cita rasa pedas dan getir dengan aroma khas.
Ikan biasanya masih hidup saat diolah, menegaskan simbol kesegaran dan penghormatan terhadap bahan makanan.
Dalam tradisi Batak, ikanarsik disajikan utuh, dari kepala hingga ekor, termasuk sisiknya, sebagai lambang keutuhan hidup.
Penyajian menghadap penerima hidangan dan jika lebih dari satu ekor, disusun sejajar, dikenal sebagai dekke si mundur, simbol harapan agar keluarga penerima dapat hidup selaras dan sejalan.
Hidangan ini mencerminkan keterkaitan erat antara kuliner, spiritualitas, dan sistem sosial BatakToba.
Melalui ikanarsik, masyarakat tidak hanya belajar mengolah makanan, tetapi juga memahami nilai budaya, solidaritas, dan doa yang terkandung dalam setiap hidangan.*
(d/ad)
Editor
: Adam
Ikan Arsik, Hidangan Sakral Batak yang Penuh Makna Budaya