BREAKING NEWS
Sabtu, 01 Agustus 2026

Dari Gerakan Jenggot Nabi, Ini Rahasia Kenapa Sholat Zuhur dan Asar Dibaca Lirih

Adelia Syafitri - Sabtu, 01 Agustus 2026 16:24 WIB
Dari Gerakan Jenggot Nabi, Ini Rahasia Kenapa Sholat Zuhur dan Asar Dibaca Lirih
ilustrasi sholat. (Foto: umroh)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Dalam pelaksanaan sholat berjemaah, seorang imam umumnya mengeraskan suara bacaan surah pada dua rakaat pertama. Namun, pemandangan berbeda akan ditemui saat sholat Zuhur dan Asar.

Kedua ibadah wajib ini dikenal dilakukan dengan bacaan senyap (sirr), sangat bertolak belakang dengan sholat Maghrib, Isya, dan Subuh yang bacaannya terdengar lantang (jahr).

Lantas, mengapa imam tidak bersuara keras saat memimpin sholat Zuhur dan Asar? Berikut beberapa alasan yang mendasarinya.

Baca Juga:

1. Meneladani Sunnah Rasulullah SAW

Alasan utama bacaan sholat Zuhur dan Asar dibaca lirih atau tanpa suara keras adalah untuk mengikuti petunjuk dan anjuran Nabi Muhammad SAW.

Dalam buku Sifat Shalat Nabi SAW karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW mencontohkan bacaan Al-Fatihah dan surah pendek pada sholat Zuhur serta Asar dilakukan secara pelan (sirr). Rasulullah SAW juga melirihkan suara pada rakaat terakhir sholat Maghrib serta rakaat ketiga dan keempat pada sholat Isya.

Kesepakatan (ijma) para ulama mengenai tata cara ini merujuk pada berbagai hadis dan atsar. Salah satunya adalah riwayat dari Abu Ma'mar Abdullah bin Sakhbarah yang pernah bertanya kepada sahabat Khabbab bin Arats:

"Kami bertanya kepada Khabbab, 'Apakah Nabi Muhammad SAW membaca dalam sholat Zuhur dan Asar?' Dia menjawab, 'Benar.' Kami bertanya lagi, 'Dengan apa kalian mengetahui hal itu?' Dia menjawab, 'Dengan gerakan jenggotnya.'" (HR Bukhari)

Tata cara ini menjadi pegangan umat Islam sesuai dengan sabda Nabi SAW yang berbunyi "Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat" (HR Bukhari dan ad-Darimi).

2. Pelaksanaan di Waktu Sibuk dan Riuh Suasana Siang

Mengutip informasi dari laman NU Online, kitab I'anah at-Thalibin menerangkan bahwa bacaan sholat Zuhur dan Asar dilirihkan karena kedua sholat tersebut ditunaikan pada siang hari. Siang hari merupakan masa-masa sibuk ketika banyak manusia berkumpul, sehingga suasana dinilai kurang nyaman untuk bermunajat secara terbuka.

Sebaliknya, sholat pada waktu Maghrib, Isya, dan Subuh dilaksanakan saat malam dan fajar tiba, waktu-waktu yang tepat untuk menyepi (khalwat). Pada saat itulah imam dianjurkan mengeraskan suara guna meresapi nikmatnya bermunajat kepada Allah SWT.

Anjuran mengeraskan suara dikhususkan pada dua rakaat pertama karena pada rakaat-rakaat awal itulah semangat orang yang sholat sedang berada di puncaknya.

Bagaimana Jika Imam Lupa dan Mengeraskan Suara?

Bagaimana hukumnya jika imam tidak sengaja mengeraskan suara saat sholat Zuhur atau Asar?

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Pemkab Simalungun Tertibkan Kendaraan Dinas, Tegaskan Larangan Gunakan BBM Subsidi
Ketua TP PKK Simalungun Dorong Perempuan Jadi Motor Kemajuan Daerah di Forum APKASI
Pemakaman Ali Khamenei Dimulai, Teheran Dipenuhi Pelayat dan Dihadiri Pemimpin Dunia
Naik Pangkat Jadi AIPTU, E. Simamora Berkomitmen Tingkatkan Profesionalisme dan Pelayanan
Sekda Simalungun Ajak Pelajar Menabung Sejak Dini, Waspadai Investasi Ilegal dan Pinjol
Usai Salat Jumat, Bocah 10 Tahun di Deli Serdang Hilang Misterius, Polisi Selidiki Dugaan Dibawa Wanita Tak Dikenal
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru