Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Pembuangan raja tersebut menjadi penanda runtuhnya kedaulatan kerajaan-kerajaan di Simalungun. Sejak peristiwa itu, seluruh kerajaan di wilayah tersebut menyatakan takluk kepada Belanda.
Penaklukan dilakukan bukan melalui perang terbuka, melainkan lewat penandatanganan perjanjian politik yang dikenal sebagai Korte Verklaring.
Pasca-penaklukan, wilayah Siantar justru berkembang pesat di bawah pemerintahan kolonial. Sejak 1907, Siantar dijadikan pusat administrasi, ekonomi, dan sosial Belanda di Simalungun.
Infrastruktur kota dibangun secara masif, seiring berkembangnya perkebunan dan aktivitas ekonomi kolonial.
Transformasi tersebut mencapai puncaknya pada 1917 ketika Siantar ditetapkan sebagai Gemeente atau Kota Raja.
Pada 1939, statusnya meningkat menjadi Stadgemeente, menjadikannya kota besar kedua di Sumatera Timur setelah Medan.
Melalui catatan sejarah ini, Kerajaan Siantar tidak hanya dipahami sebagai entitas politik masa lampau, tetapi juga sebagai fondasi lahirnya Kota Pematangsiantar.
Jejak kekuasaan raja-raja Damanik, dinamika kolonialisme, serta perubahan sosial yang menyertainya membentuk identitas historis kota yang masih terasa hingga hari ini.*
(d/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.