BREAKING NEWS
Jumat, 13 Maret 2026

Manulangi: Tradisi Batak Memberi Makanan kepada Orang Tua sebagai Simbol Kasih Sayang

Adelia Syafitri - Jumat, 13 Maret 2026 10:24 WIB
Manulangi: Tradisi Batak Memberi Makanan kepada Orang Tua sebagai Simbol Kasih Sayang
Tradisi Batak Manulangi. (foto: bpkwil2/ig)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

MEDAN – Di tengah masyarakat Batak, terdapat sebuah tradisi yang sarat makna penghormatan kepada orang tua, yaitu Manulangi.

Ritual ini dilakukan ketika seorang anak memberikan makanan kepada orang tuanya sebagai bentuk bakti dan permohonan restu.

Menurut Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II, istilah Manulangi secara terminologi berarti "kegiatan menyampaikan makanan yang lezat kepada orang tua."

Baca Juga:

Namun, praktiknya jauh lebih dari sekadar memberi makan. Upacara ini menjadi simbol kasih sayang anak sekaligus sarana permohonan restu.

Dalam prosesi Manulangi, pemberian makanan dikenal sebagai sulangsulang ni harapan, yakni bentuk penghormatan anak kepada orang tua atas jasa dan perannya dalam kehidupan.

Namun, tidak semua keluarga Batak bisa melaksanakan ritual ini. Syarat adat mengharuskan anak-anak yang terlibat dalam upacara berada dalam keadaan lengkap, serta memperhatikan sistem kekerabatan tradisional Batak.

Ritual ini juga diiringi unsur seni tradisional, terutama musik gondang yang dimainkan oleh para pargonsi, pemusik adat yang berperan sebagai perantara simbolik antara manusia dan Tuhan.

Selain gondang, alat musik tiup sarune bolon turut digunakan sebagai media penyampaian doa.

Tahap utama Manulangi adalah prosesi anak-anak memberikan makanan secara bergantian kepada orang tua mereka, disertai manortor, tari tradisional Batak sebagai bentuk penghormatan (tortor somba).

Seluruh anggota keluarga memiliki peran yang sama dalam prosesi ini, tanpa membedakan posisi dalam keluarga.

Antropolog Koentjaraningrat menegaskan, penghormatan kepada orang tua melalui ritual menjadi sarana mengekspresikan nilai keluarga dalam masyarakat tradisional Indonesia.

Sementara itu, J.C. Vergouwen menekankan bahwa hubungan antara orang tua dan anak dalam budaya Batak memiliki dimensi sosial dan spiritual yang kuat.

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Mengenal Huta Tinggi, Kampung Tradisional Batak dengan Rumah Bolon di Danau Toba
Sinergi Aparat dan Warga, Bhabinkamtibmas Desa Sumerta Kelod Pastikan Hari Raya Nyepi di Tanjung Bungkak Aman dan Tertib
Tradisi Ramadan di Gampong Lam Lumpu: Khanduri Tamat Darus dan Buka Puasa Bersama Warga
Kapolda Aceh Masak Kuah Beulangong Bersama Warga Sambut Khanduri Ramadhan di Masjid Raya Baiturrahman
Wagub Bali Nyoman Giri Prasta Ngayah di Pura Puseh Kuta, Tekankan Dukungan Pemerintah untuk Adat dan Keagamaan
Sinergi TNI-Polri dan Pecalang, Upacara Ngaben di Denpasar Timur Berlangsung Khidmat dan Aman
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru