MEDAN – Di tengah masyarakat Batak, terdapat sebuah tradisi yang sarat makna penghormatan kepada orang tua, yaitu Manulangi.
Ritual ini dilakukan ketika seorang anak memberikan makanan kepada orang tuanya sebagai bentuk bakti dan permohonan restu.
Menurut Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II, istilah Manulangi secara terminologi berarti "kegiatan menyampaikan makanan yang lezat kepada orang tua."
Namun, praktiknya jauh lebih dari sekadar memberi makan. Upacara ini menjadi simbol kasih sayang anak sekaligus sarana permohonan restu.
Dalam prosesi Manulangi, pemberian makanan dikenal sebagai sulangsulang ni harapan, yakni bentuk penghormatan anak kepada orang tua atas jasa dan perannya dalam kehidupan.
Namun, tidak semua keluarga Batak bisa melaksanakan ritual ini. Syarat adat mengharuskan anak-anak yang terlibat dalam upacara berada dalam keadaan lengkap, serta memperhatikan sistem kekerabatan tradisional Batak.
Ritual ini juga diiringi unsur seni tradisional, terutama musik gondang yang dimainkan oleh para pargonsi, pemusik adat yang berperan sebagai perantara simbolik antara manusia dan Tuhan.
Selain gondang, alat musik tiup sarune bolon turut digunakan sebagai media penyampaian doa.
Tahap utama Manulangi adalah prosesi anak-anak memberikan makanan secara bergantian kepada orang tua mereka, disertai manortor, tari tradisional Batak sebagai bentuk penghormatan (tortor somba).
Seluruh anggota keluarga memiliki peran yang sama dalam prosesi ini, tanpa membedakan posisi dalam keluarga.
Antropolog Koentjaraningrat menegaskan, penghormatan kepada orang tua melalui ritual menjadi sarana mengekspresikan nilai keluarga dalam masyarakat tradisional Indonesia.
Sementara itu, J.C. Vergouwen menekankan bahwa hubungan antara orang tua dan anak dalam budaya Batak memiliki dimensi sosial dan spiritual yang kuat.
"Melalui tradisiManulangi, masyarakat Batak tidak hanya menjaga adat istiadat, tetapi juga menegaskan nilai bakti anak kepada orang tua yang diwariskan secara turun-temurun," tulis BPK Wilayah II.
Tradisi Manulangi menjadi bukti bahwa dalam kebudayaan Batak, penghormatan kepada orang tua bukan sekadar simbol, melainkan bagian integral dari kehidupan sosial, spiritual, dan budaya masyarakat.*