BREAKING NEWS
Kamis, 14 Mei 2026

Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Stabilitas Ekonomi Butuh Waktu dan Penyesuaian Bertahap

Nurul - Kamis, 14 Mei 2026 12:19 WIB
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Stabilitas Ekonomi Butuh Waktu dan Penyesuaian Bertahap
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (Foto: Muhammad Firman/detikFoto)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Ia menegaskan pemerintah tetap berupaya menjaga stabilitas ekonomi, namun proses penguatan rupiah membutuhkan waktu dan strategi bertahap.

Purbaya menjelaskan, langkah yang dilakukan pemerintah bukan dengan intervensi langsung di pasar valuta asing, melainkan melalui penguatan stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) atau bond market.

"Itu kan perlu waktu. Kita kan enggak masuk ke pasar dolar langsung. Tapi kita hanya menjaga stabilitas bond market," ujar Purbaya di Kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Baca Juga:

Ia menambahkan, stabilitas di pasar obligasi menjadi salah satu kunci untuk menjaga arus investasi agar tidak semakin menekan nilai tukar rupiah.

"Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti," katanya.

Menurut Purbaya, saat ini pasar obligasi mulai menunjukkan perbaikan seiring masuknya kembali investor asing ke instrumen keuangan domestik. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal positif bagi stabilitas keuangan nasional.

"Asing juga masuk sih. Ini kayaknya bond-nya sudah mulai stabil lagi. Dan kita lihat ke depan seperti apa. Tapi yang jelas kita monitor kondisi di pasar bond sekarang," ujarnya.

Pemerintah juga menyiapkan opsi pembelian kembali (buyback) Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Kebijakan ini akan dijalankan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) dalam beberapa bulan ke depan sebagai bagian dari penguatan pasar keuangan.

Di sisi lain, Purbaya memastikan pelemahan rupiah belum berdampak signifikan terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk subsidi energi. Hal ini karena pemerintah telah melakukan perhitungan risiko dengan asumsi harga minyak yang lebih tinggi.

"Jadi enggak ada masalah. Saya enggak harus hitung ulang," tegasnya.

Ia juga menyebut pemerintah terus berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk memperkuat penerimaan negara dari sektor energi dan pertambangan guna menjaga ketahanan ekonomi nasional.*

(oz/dh)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prabowo: Daripada Dimakan Koruptor, Uang Sitaan Rp10,2 Triliun Lebih Baik Buat Perbaiki Sekolah dan Puskesmas
Ekonom Bantah Utang RI Naik karena MBG, Sebut Program Itu Investasi Generasi Masa Depan
Rupiah Tembus Rp 17.500, Menkeu Purbaya Siapkan Intervensi Pasar Obligasi Mulai Besok
Purbaya Tegaskan Tak Akan Tambah Defisit APBN untuk Biayai Kopdes, Ini Skema Pendanaannya
Said Abdullah Yakin APBN 2026 Tetap Aman Meski Isu Defisit dan Saldo Menipis Muncul
Tanpa Tambah Utang Baru, Indonesia Butuh 20 Tahun untuk Melunasi Utang: Warisan Pahit bagi Anak Cucu Kita
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru