Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah optimistis kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih berada dalam kondisi aman dan terkendali di tengah berbagai isu yang berkembang soal defisit dan menipisnya saldo anggaran negara.
Said menilai berbagai kritik serta peringatan dari pengamat ekonomi maupun akademisi terkait kondisi fiskal nasional perlu disikapi secara bijak sebagai bentuk kepedulian terhadap perekonomian Indonesia.
"Kita patut mengapresiasi berbagai kritik dan alarm kewaspadaan dari para pengamat serta akademisi. Itu bentuk rasa sayang terhadap kondisi fiskal negara," kata Said dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).
Baca Juga:
Menurutnya, meski muncul kekhawatiran mengenai defisit APBN yang disebut bisa menembus 3 persen, kondisi ekonomi nasional justru menunjukkan tren positif pada kuartal pertama 2026.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,6 persen yang didorong oleh peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Lebaran, serta percepatan realisasi belanja pemerintah.
Belanja pemerintah pada kuartal I 2026 tercatat tumbuh 21,81 persen secara tahunan dan memberikan kontribusi sebesar 1,26 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Selain itu, sejumlah indikator ekonomi juga dinilai masih cukup kuat. Neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus sebesar 5,5 miliar dolar AS dan telah bertahan positif selama 71 bulan berturut-turut.
Sementara itu, pendapatan negara pada kuartal I 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Penerimaan pajak juga mengalami kenaikan signifikan menjadi Rp394,8 triliun atau tumbuh 20,7 persen secara tahunan.
Said mengakui tantangan utama saat ini berada pada sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), khususnya akibat penurunan lifting migas dan rendahnya harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP).
Meski demikian, ia meyakini kondisi tersebut akan membaik pada kuartal II 2026 seiring kenaikan harga minyak dunia dan membaiknya aktivitas hulu migas.
Terkait defisit APBN, Said menjelaskan hingga kuartal I 2026 defisit tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.